Perawatan Wajah dan Kecantikan Kulit

Tag Archives: faktor

BAB I

PENAHULUAN

Gangguan artikulasi adalah suatu gangguan yang sering ditemukan dalam praktek dokter gigi. Pada hasil studi epidemiologi, lebih dari 75 % orang dewasa memperlihatkan gejala Gangguan artikulasi seperti kliking dan bentuk yang abnormal dari mandibula pada saat dilakukan pemeriksaan secara klinis.

Kelainan pada sendi temporomandibula ini diantaranya adalah ankilosis, dislokasi mandibula, hiperplasia kondiloideus, hipoplasia kondiloideus dan fraktur mandibula. Tanda-tanda yang ditimbulkan pada setiap kelainan berbeda, misalnya pada ankilosis penderita tidak dapat menggerakkan mandibulanya, dislokasi mandibula penderita akan merasa giginya tidak dapat beroklusi sempurna, pada hyperplasia dan hipoplasia kondiloideus penderita akan mengalami wajah yang asimetri, sedangkan fraktur mandibula biasanya penderita akan mengalami pembengkakan disekitar wajah jika faktor penyebabnya adalah trauma. Kondisi ini dapat langsung kita ketahui melalui pemeriksaan secara klinis, akan tetapi untuk mengetahui secara pasti harus dilakukan pemeriksaan radiografi.

Gangguan artikulasi merupakan penyakit yang menimbulkan banyak gajala, namun diperkirakan jumlah penderitanya akan bertambah parah jika perawatan yang dilakukan tidak tepat. Apabila kelainan artikulasi dapat diketahui lebih awal maka perawatan akan lebih mudah sedangkan jika terlambat harus dilakukan tindakan yang lebih lanjut.

 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. DEFINISI

Sendi Rahang atau temporomandibular joint (TMJ) adalah daerah langsung didepan kuping pada kedua sisi kepala dimana rahang atas (maxilla) dan rahang bawah (mandible) bertemu. Didalam sendi rahang terdapat bagian-bagian yang bergerak yang memungkinkan rahang atas menutup pada rahang bawah. Sendi rahang ini adalah suatu sliding “ball dan socket” khas yang mempunyai satu piringan (disc) terjepit diantaranya. Sendi rahang (TMJ) digunakan beratus kali dalam sehari untuk menggerakan rahang,menggigit dan mengunyah, berbicara dan menguap. Sendi ini merupakan salah satu sendi dari seluruh sendi ditubuh yang paling sering digunakan.

Sendi rahang (TMJ) adalah rumit dan terdiri dari otot-otot, urat-urat dan tulang-tulang. Setiap komponen berkontribusi pada kelancaran kerja dari sendi rahang. Ketika otot-otot bersantai dan berimbang dan kedua rahang membuka dan menutup dengan nyaman, kita dapat berbicara, mengunyah dan menguap tanpa sakit.

Jadi pengertian dari temporomandibular joint disorder (TMD) adalah merupakan suatu kelainan pada sendi temporomandibular (sendi yang berfungsi menggerakan rahang bawah) yang di akibatkan oleh hiperfungi, malfungsi dari musculoskeletal (otot-otot pada tulang tengkorak) ataupun proses degeneratif pada sendi itu sendiri.

TMD adalah kejadian yang kompleks dan disebabkan oleh banyak faktor. Perawatan TMD dapat mencapai keberhasilan bila faktor-faktor penyebab tersebut dapat dikenali dan dikendalikan. Untuk itu seorang dokter gigi harus melakukan anamnesa yang seksama untuk mencari penyebab utama terjadinya TMD, sebelum melakukan perawatan.

 

  1. B.     ANATOMI SENDI TEMPOROMANDIBULAR

Lokasi sendi temporomandibular (TMJ) berada tepat dibawah telinga yang menghubungkan rahang bawah (mandibula) dengan maksila (pada tulang temporal). Sendi temporomandibular ini unik karena bilateral dan merupakan sendi yang paling banyak digunakan serta paling kompleks.

Kondilus tidak berkontak langsung dengan permukaan tulang temporal, tetapi dipisahkan oleh diskus yang halus, disebut meniskus atau diskus artikulare. Diskus ini tidak hanya perperan sebagai pembatas tulang keras tetapi juga sebagai bantalan yang menyerap getaran dan tekanan yang ditransmisikan melalui sendi.

Gambar 1. Struktur Sendi Temporomandibula Lateral view

Permukaan artikular tulang temporal terdiri dari fossa articulare dan eminensia artikulare. Seperti yang lain, sendi temporomandibular juga dikontrol oleh otot, terutama otot penguyahan, yang terletak disekitar rahang dan sendi temporomandibular. Otot-otot ini termasuk otot pterygoid interna, pterygoid externa, mylomyoid, geniohyoid dan otot digastrikus. Otot-otot lain dapat juga memberikan pengaruh terhadap fungsi sendi temporomandibular, seperti otot leher, bahu, dan otot punggung.

Ligamen dan tendon berfungsi sebagai pelekat tulang dengan otot dan dengan tulang lain. Kerusakan pada ligamen dan tendon dapat mengubah kerja sendi temporomandibular, yaitu mempengaruhi gerak membuka dan menutup mulut.

 

  1. C.    ETIOLOGI

1. Kondisi oklusi.

Dulu oklusi selalu dianggap sebagai penyebab utama terjadinya TMD, namun akhir-akhir ini banyak diperdebatkan

2. Trauma

Trauma dapat dibagi menjadi dua :

  1. Macrotrauma : Trauma besar yang tiba-tiba dan mengakibatkan perubahan struktural, seperti pukulan pada wajah atau kecelakaan.
  2. Microtrauma : Trauma ringan tapi berulang dalam jangka waktu yang lama, seperti bruxism dan clenching. Kedua hal tersebut dapat menyebabkan microtrauma pada jaringan yang terlibat seperti gigi, sendi rahang, atau otot.

3. Stress emosional

Keadaan sistemik yang dapat mempengaruhi fungsi pengunyahan adalah peningkatan stres emosional. Pusat emosi dari otak mempengaruhi fungsi otot. Hipotalamus, sistem retikula, dan sistem limbic adalah yang paling bertanggung jawab terhadap tingkat emosional individu. Stres sering memiliki peran yang sangat penting pada TMD.

Stres adalah suatu tipe energi. Bila terjadi stres, energi yang timbul akan disalurkan ke seluruh tubuh. Pelepasan secara internal dapat mengakibatkan terjadinya gangguan psikotropik seperti hipertensi, asma, sakit jantung, dan/atau peningkatan tonus otot kepala dan leher. Dapat juga terjadi peningkatan aktivitas otot nonfungsional seperti bruxism atau clenching yang merupakan salah satu etiologi TMD

4. Deep pain input (Aktivitas parafungsional)

Aktivitas parafungsional adalah semua aktivitas di luar fungsi normal (seperti mengunyah, bicara, dan menelan), dan tidak mempunyai tujuan fungsional. Contohnya adalah bruxism, dan kebiasaankebiasaan lain seperti menggigit-gigit kuku, pensil, bibir, mengunyah satu sisi, tongue thrust, dan bertopang dagu. Aktivitas yang paling berat dan sering menimbulkan masalah adalah bruxism, termasuk clenching dan grinding. Beberapa literatur membedakan antara bruxism dan clenching. Bruxism adalah mengerat gigi atau grinding terutama pada malam hari, sedangkan clenching adalah mempertemukan gigi atas dan bawah dengan keras yang dapat dilakukan pada siang ataupun malam hari.

 

  1. D.    KLASIFIKASI
    1. Kelainan otot :
  • Spasme
  • Inflamasi
  • Hipertrofi
  • Atrofi
  • Kontraktur
  • Fibrosis
  1.  Kelaianan sendi Temporo Mandibular :
  • Internal Deangengment
  • TMJ arthritis
  • Capsulitis
  • Retrodistis
  • Neoplasia

 

  1. DIAGNOSA

Diagnosis dapat ditegakkan secara berurutan berdasarkan:

  1. Anamnesis

Meliputi personal data, keluhan utama, riwayat penyakit, riwayat kesehatan dan riwayat kesehatan gigi dan mulutnya. Tidak menutup kemungkinan bahwa gejala dari kelainan temporomandibular dapat berasal dari gigi dan jaringan periodontal, maka harus dilakukan pemeriksaan secara seksama pada gigi dan jaringan periodontal. Selain itu, perlu ditanyakantentang perawatan gigi yang pernah didapatkan, riwayat penggunaan gigi palsu dan gigi kawat.

Keluhan utama pada pasien dengan, diantaranya :

  • Pasien akan merasakan nyeri pada darah TMJ, rahang atau wajah
  • Nyeri dirasakan pada saat membuka mulut
  • Keluhan adanya “clicking sounds” pada saat menggerakan rahang
  • Kesulitan untuk membuka mulut secara sempurna
  • Sakit kepala
  • Nyeri pada daerah leher dan pungggung

 

  1. Pemeriksaan klinis
  1. Inspeksi :

Untuk melihat adanya kelainan sendi temporomandibular perlu diperhatikan gigi,

sendi rahang dan otot pada wajah serta kepala dan wajah. Apakah pasien menggerakan mulutnya dengan nyaman selama berbicara atau pasien seperti menjaga gerakan dari rahang bawahnya. Terkadang pasien memperlihatkan kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik selama interview seperti bruxism.

  1. Palpasi :
  • Masticatory muscle examination: Pemeriksaan dengan cara palpasi sisi kanan dan kiri pada dilakukan pada sendi dan otot pada wajah dan daerah kepala.

-        Temporalis muscle, yang terbagi atas 3 segmen yaitu anterior, media, dan posterior.

-        Zygomatic arch (arkus zigomatikus).

-        Masseter muscle

-        Digastric muscle

-        Sternocleidomastoid muscle

-        Cervical spine

-        Trapezeus muscle, merupakan Muscular trigger point serta menjalarkan nyeri ke dasar tengkorang dan bagian temporal

-        Lateral pterygoid muscle

-        Medial pterygoid muscle

-        Coronoid process

 

  • Muscular Resistance Testing: Tes ini penting dalam membantu mencari lokasi nyeri dan tes terbagi atas 5, yaitu :

-        Resistive opening (sensitive untuk mendeteksi rasa nyeri pada ruang inferior m.pterigoideus lateral)

-        Resistive closing (sensitive untuk mendeteksi rasa nyeri pada m. temporalis, m. masseter, dan m. pterigoideus medial)

-        Resistive lateral movement (sensitive untuk mendeteksi rasa nyeri pada m. pterigoideus lateral dan medial yang kontralateral)

-        Resistive protrusion (sensitive untuk mendeteksi rasa nyeri pada m. pterigoideus lateral)

-        Resistive retrusion (sensitive untuk mendeteksi rasa nyeri pada bagian posterior m. temporalis)

 

  • Pemeriksaan tulang belakang dan cervical : Dornan dkk memperkirakan bahwa pasien

dengan masalah TMJ juga memperlihatkan gejala pada cervikal. Pada kecelakaan kendaraan bermotor kenyataannya menunjukkan kelainan pada cervikal maupun TMJ.

Evaluasi pada cervikal dilakukan dengan cara :

-        Menyuruh pasien berdiri pada posisi yang relaks, kemudian dokter menilai apakah terdapat asimetris kedua bahu atau deviasi leher

-        Menyuruh pasien untuk menghadap kesamping untuk melihat postur leher yang terlalu ke depan

-        Menyuruh pasien untuk memutar (rotasi) kepalanya ke setiap sisi, dimana pasien seharusnya mampu untuk memutar kepala sekitar 80 derajat ke setiap sisi.

-        Menyuruh pasien mengangkat kepala ke atas (ekstensi) dan ke bawah (fleksi), normalnya pergerakan ini sekitar 60 derajat

-        Menyuruh pasien menekuk kepala kesamping kiri dan kanan, normalnya pergerakan ini 45 derajat

 

  1. Auskultasi : Joint sounds

Bunyi sendi TMJ terdiri dari “clicking” dan ‘krepitus’. “Clicking” adalah bunyi singkat yang terjadi pada saat membuka atau menutup mulut, bahkan keduanya. “Krepitus” adalah bersifat difus, yang biasanya berupa suara yang dirasakan menyeluruh pada saat membuka atau menutup mulut bahkan keduanya. “Krepitus” menandakan perubahan dari kontur tulang seperti pada osteoartrosis. “Clicking” dapat terjadi pada awal, pertengahan, dan akhir membuka dan menutup mulut. Bunyi “click” yang terjadi pada akhir membuka mulut menandakan adanya suatu pergeseran yang berat. TMJ ‘clicking’ sulit didengar karena bunyinya halus, maka dapat didengar dengan menggunakan stetoskop.

 

 

  1. Range of motion:

Pemeriksaan pergerakan ”Range of Motion” dilakukan dengan pembukaan mulut secara maksimal, pergerakan dari TMJ normalnya lembut tanpa bunyi atau nyeri. Mandibular range of motion diukur dengan :

-        Maximal interticisal opening (active and passive range of motion)

-        Lateral movement

-        Protrusio movement

-         

  1. Pemeriksaan lain (penunjang)
  • Transcranial radiografi :

Menggunakan sinar X, untuk dapat menilai kelainan, yang harus diperhatikan antara lain:

-        Condyle pada TMJ dan bagian pinggir kortex harus diperhatikan

-        Garis kortex dari fossa glenoid dan sendi harus dilihat.

-        Struktur condyle mulus, rata, dan bulat, pinggiran kortex rata.

-        Persendian tidak terlihat karena bersifat radiolusen.

-        Perubahan patologis yang dapat terlihat pada condyle diantaranya flattening, lipping.

  • Panoramik Radiografi :

Menggunakan sinar X, dapat digunakan untuk melihat hampir seluruh regio maxilomandibular dan TMJ. Kelemahan dari pemeriksaan ini antara lain :

-        Terdapatnya bayangan atau struktur lain pada foto X ray.

-        Fenomena distorsi, dimana terjadi penyimpangan bentuk yang sebenarnya yang terjadi akibat goyang saat pengambilan gambar.

-        Gambar yang kurang tajam.

Kelainan yang dapat dilihat antara lain fraktur, dislokasi, osteoatritis, neoplasma, kelainan pertumbuhan pada TMJ.

  • CT Scan :

Menggunakan sinar X, merupakan pemeriksaan yang akurat untuk melihat kelainan tulang pada TMJ.

 

 

  1. PENATALAKSANAAN

Dalam penatalaksaan TMD di lakukan secara bedah dan non bedah, sesuai dengan

indikasi.

1. Jaw Rest (Istirahat Rahang): Sangat menguntungkan jika membiarkan gigi-gigi terpisah sebanyak mungkin. Adalah juga sangat penting mengenali jika kertak gigi (grinding) terjadi dan menggunakan metode-metode untuk mengakhiri aktivitas-aktivitas ini. Pasien dianjurkan untuk menghindari mengunyah permen karet atau makan makanan yang keras, kenyal (chewy) dan garing (crunchy), seperti sayuran mentah, permen-permen atau kacang-kacangan. Makanan-makanan yang memerlukan pembukaan mulut yang lebar, seperti hamburger, tidak dianjurkan.

2. Terapi Panas dan Dingin: Terapi ini membantu mengurangi tegangan dan spasme otot-otot. Bagaimanapun, segera setelah suatu luka pada sendi rahang, perawatan dengan penggunaan dingin adalah yang terbaik. Bungkusan dingin (cold packs) dapat membantu meringankan sakit.

3. Obat-obatan: Obat-obatan anti peradangan seperti aspirin, ibuprofen (Advil dan lainnya), naproxen (Aleve dan lainnya), atau steroids dapat membantu mengontrol peradangan. Perelaksasi otot seperti diazepam (Valium), membantu dalam mengurangi spasme-spasme otot.

4. Terapi Fisik: Pembukaan dan penutupan rahang secara pasiv, urut (massage) dan stimulasi listrik membantu mengurangi sakit dan meningkatkan batasan pergerakan dan kekuatan dari rahang.

5. Managemen stres: Kelompok-kelompok penunjang stres, konsultasi psikologi, dan obat-obatan juga dapat membantu mengurangi tegangan otot. Umpanbalikbio (biofeedback) membantu pasien mengenali waktu-waktu dari aktivitas otot yang meningkat dan spasme dan menyediakan metode-metode untuk membantu mengontrol mereka.

6. Terapi Occlusal: Pada umumnya suatu alat acrylic yang dibuat sesuai pesanan dipasang pada gigi-gigi, ditetapkan untuk malam hari namun mungkin diperlukan sepanjang hari. Ia bertindak untuk mengimbangi gigitan dan mengurangi atau mengeliminasi kertakan gigi (grinding) atau bruxism.

7. Koreksi Kelainan Gigitan: Terapi koreksi gigi, seperti orthodontics, mungkin diperlukan untuk mengkoreksi gigitan yang abnormal. Restorasi gigi membantu menciptakan suatu gigitan yang lebih stabil. Penyesuaian dari bridges atau crowns bertindak untuk memastikan kesejajaran yang tepat dari gigi-gigi.

8. Operasi: Operasi diindikasikan pada kasus-kasus dimana terapi medis gagal. Ini dilakukan sebagai jalan terakhir. TMJ arthroscopy, ligament tightening, restrukturisasi rahang (joint restructuring), dan penggantian rahang (joint replacement) dipertimbangkan pada kebanyakan kasus yang berat dari kerusakan rahang atau perburukan rahang.

 BAB III

KESIMPULAN

 

Dari makalah ini dapat disimpulkan bahwa Kelainan pada sendi temporomandibula ini diantaranya adalah ankilosis, dislokasi mandibula, hiperplasia kondiloideus, hipoplasia kondiloideus dan fraktur mandibula. Tanda-tanda yang ditimbulkan pada setiap kelainan berbeda, misalnya pada ankilosis penderita tidak dapat menggerakkan mandibulanya, dislokasi mandibula penderita akan merasa giginya tidak dapat beroklusi sempurna, pada hyperplasia dan hipoplasia kondiloideus penderita akan mengalami wajah yang asimetri, sedangkan fraktur mandibula biasanya penderita akan mengalami pembengkakan disekitar wajah jika faktor penyebabnya adalah trauma. Kondisi ini dapat langsung kita ketahui melalui pemeriksaan secara klinis, akan tetapi untuk mengetahui secara pasti harus dilakukan pemeriksaan radiografi.

 

 


DAFTAR PUSTAKA

1. Wong ME, Butler D, Ried R, Gateno J. Advance oral and maxillofacial surgery. Houston : The University of Dental Branch at Houston, 2007 : 6-9.

2. Nayak PK, Nair SC, Krishnan DG, Perciaccante VJ. Ankylosis of the temporomandibular joint. In : Booth PW, Schendel SA, Jarg_Erich H. Maxillofacial surgery. 2nd Ed.St. Louis : Churchill Livingstone, 2007 : 1522-36.

3. Ramezanian M, Yavary T. Comparion of gap arthroplasty and interpositional gap arthroplasty on the temporomandibular joint ankylosis. Acta Medica Iranica 2006:44(6):391-4.

4. Suryonegoro H. Pencitraan temporomandibular discorder: clicking. <http://www.pdgi-online.com&gt; ( 1 Oktober 2009).

5. Das UM, Keerthi R, Ashwin DP, Venkata RS, Reddy D, Shiggaon N. Ankylosis of temporomandibular joint in children. J Indian Soc Pedod Prevent Dent 2009:27(2):116-20.

6. Malik NA. Textbook of oral and maxillofacial surgery.2nd Ed. New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publisher (P) Ltd, 2008 : 226,229-33,237-39.

7. Vasconcelos BCE, Porto GG, Bessa-nogueira RV. Temporomandibular joint ankylosis. Rev Bras Otorrinolsringol 2008:74(1):34-8.

8. Vasconcelos BCE, Bessa-nogueira RV,Cyproano RV. Treatment of temporomandibular joint ankylosis by gap arthroplasty. Med Oral Patol Oral Cir Bucal 2006:11:66-9.

 


BAB I

LAPORAN KASUS

 

  1. I.                   IDENTITAS

Nama                     : Nn.D

Alamat                  : Djenggolo kepanjen

Umur                     : 22 tahun

Kelamin                 : perempuan

Pekerjaan               : mahasiswa

Status                    : belum menikah

Tanggal periksa     : kamis, 14 desember 2010

Rekam medis        : 241029

 

  1. II.                RIWAYAT KASUS
  2. Gigi                                   : pernah tambal gigi (gigi kiri bawah) dan sejak ± 1 tahun yang lalu tambalan lepas.
  3. Jar.lunak R. mulut&sekitarnya      : hiperemi dan oedema
  1. Keluhan Utama                     : gusi sebelah kiri bawah tiba-tiba bengkak
  2. Riwayat penyakit sekarang  : gusi sebelah kiri bawah tiba-tiba bengkak sejak 3 hari yang lalu, terasa sakit dan nyeri, teraba hangat. Pasien juga sempat mengalami demam ±1hari yang lalu. Sejak 4 hari yang lalu pasien mengaku amandelnya terasa sakit, kemudian sembuh dan berganti dengan sakit yang sekarang.
  3. Riwayat perawatan               :
  1. Riwayat kesehatan
  • Kelainan darah                              : Pasien mengaku tidak ada kelainan
  • Kelainan endokrin                         : Pasien mengaku tidak ada kelainan
  • Gangguan nutrisi                           : Pasien mengaku tidak ada kelainan
  • Kelainan jantung                           : Pasien mengaku tidak ada kelainan
  • Kelainan kulit/ kelamin                 : Pasien mengaku tidak ada kelainan
  • Gangguan pencernaan                   : gastritis
  • Gangguan respiratori                     : Pasien mengaku tidak ada kelainan
  • Kelainan imunologi                       : Pasien mengaku tidak ada kelainan
  • Gangguan TMJ                             : Pasien mengaku tidak ada kelainan
  • Tekanan darah                               : Pasien mengaku tidak ada kelainan
  • Diabetes mellitus                           : Pasien mengaku tidak ada kelainan
  • Lain-lain                                        : Pasien mengaku tidak ada kelainan
  1. Obat-obatan yang telah /sedang dijalani : Cataflam 3 tablet selama 2 hari
  2. Keadaan sosial/kebiasaan                 : Menengah / suka makan makanan manis (coklat)
  3. Riwayat Keluarga :

a. Kelainan darah                    : Pasien mengaku tidak ada kelainan

b. Kelainan endokrin               : Pasien mengaku tidak ada kelainan

c. Diabetes melitus                  : Pasien mengaku tidak ada kelainan

d. Kelainan jantung                 : Pasien mengaku tidak ada kelainan

e. Kelainan syaraf                   : Pasien mengaku tidak ada kelainan

f. Alergi                                   : Pasien mengaku tidak ada kelainan

g. lain-lain                               : -

 

III. PEMERIKSAAN KLINIS

1. EKSTRA ORAL :

  1. Muka                                       : asimetris
  2. Pipi kiri                                    : bengkak/oedema

Pipi kanan                               : tidak ada kelainan

  1. Bibir atas                                 : tidak ada kelainan

bibir bawah                             : tidak ada kelainan

d. Sudut mulut                              : tidak ada kelainan

  1. Kelenjar submandibularis kiri   : teraba dan nyeri

Kelenjar submandibularis kanan : tidak teraba/ tidak ada kelainan

f. Kelenjar submentalis                 : teraba dan nyeri

g. Kelenjar leher                            : teraba dan nyeri (sebelah kiri)

h. Kelenjar sublingualis                 : hiperemis

  1. Kelenjar parotis                       : teraba dan membesar
  2. Lain-lain                                  : (-)

 

2. INTRA ORAL :

  1. Mukosa labial atas                   : tidak ada kelainan

Mukosa labial bawah              : tidak ada kelainan

  1. Mukosa pipi kiri                      : hiperemis, oedema

Mukosa pipi kanan                  : tidak ada kelainan

  1. Bukal fold atas                        : tidak ada kelainan

Bukal fold bawah                   : hiperemis, oedema

  1. Labial fold atas                       : tidak ada kelainan

Labial fold bawah                   : hiperemis

  1. Ginggiva rahang atas              : tidak ada kelainan

Ginggiva rahang bawah kiri    : Hiperemis

  1. f.        Lidah                                       : tidak ada kelainan
  2. Dasar mulut                             : tidak ada kelainan
  3. Palatum                                   : tidak ada kelainan
  4. Tonsil                                      : oedema
  5. Pharynx                                   : tidak ada kelainan
  6. Lain – lain                               : tidak ada kelainan

Keterangan :

T          : tambal

GP       : gangrene pulpa

IV. DIAGNOSE SEMENTARA :

  • Abses
  • karies

V. RENCANA PERAWATAN :

Pro: Open Burr

Abses sembuh pro : cabut (eksodontia)

1. Pengobatan :

R/ Clindamycin kap 300 mg   No.X

S 3 dd 1

R/ Asam Mefenamat tab 500 mg No.X

S 3 dd 1

2. Pemeriksaan Penunjang :

 

Lab.Rontgenologi mulut/ Radiologi   : -

Lab.Patologi anatomi                          : -

  • Sitologi                                    : -
  • Biopsi                                      : -

Lab.Mikrobiologi                                : -

  • Bakteriologi                            : -
  • Jamur                                       : -

Lab.Patologi Klinik                             : -

3. Rujukan :

Poli Penyakit Dalam                           : -

Poli THT                                             : -

Poli Kulit & Kelamin                          : -

Poli Syaraf                                          : -

 

VI. DIAGNOSE AKHIR :

Periapikal abses oleh karena gangrene pulpa   6

 

VII. DIFFERENTIAL DIAGNOSA

Submandibular abses

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEMBAR PERAWATAN

Tanggal Elemen Diagnosa Therapi Keterangan
16 desember 2010  

6

Periapikal abses oleh karena gangrene pulpa Open Burr

Farmako :

R/ Clindamycin kap 300 mg   No.X

S 3 dd 1

R/ Asam Mefenamat tab 500 mg No.X

S 3 dd 1

Kontrol 7 hari lagi

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.    DEFINISI

Abses periapikal adalah kumpulan pus yang terlokalisir dibatasi oleh jaringan tulang yang disebabkan oleh infeksi dari pulpa dan atau periodontal.

Abses periapikal umumnya berasal dari nekrosis jaringan pulpa. Jaringan yang terinfeksi menyebabkan sebagian sel mati dan hancur, meninggalkan rongga yang berisi jaringan dan sel-sel yang terinfeksi. Sel-sel darah putih yang merupakan pertahanan tubuh dalam melawan infeksi, bergerak ke dalam rongga tersebut dan setelah memfagosit bakteri, sel darah putih akan mati. Sel darah putih yang mati inilah yang membentuk nanah yang mengisi rongga tersebut. Akibat penimbunan nanah ini maka jaringan sekitarnya akan terdorong dan menjadi dinding pembatas abses. Hal ini merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk mencegah penyebaran infeksi lebih lanjut. Jika suatu abses pecah di dalam maka infeksi bisa menyebar tergantung kepada lokasi abses.

 

  1. PATOGENESA DAN POLA PENYEBARAN
Proses infeksi pada jaringan pulpo-periapikal dapat menyebabkan beberapa kondisi ketika melibatkan jaringan periapikal, dapat berupa granuloma, abses, kista, atau osteomyelitis.

Saluran pulpa yang sempit menyebabkan drainase yang tidak sempurna pada pulpa yang terinfeksi, namun dapat menjadi tempat berkumpulnya bakteri dan menyebar kearah jaringan periapikal secara progresif. Ketika infeksi mencapai akar gigi, jalur patofisiologi proses infeksi ini dipengaruhi oleh jumlah dan virulensi bakteri, ketahanan host, dan anatomi jaringan yang terlibat.

Abses merupakan rongga patologis yang berisi pus yang disebabkan oleh infeksi bakteri campuran. Bakteri yang berperan dalam proses pembentukan abses ini yaitu Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans. Staphylococcus aureus dalam proses ini memiliki enzim aktif yang disebut koagulase yang fungsinya untuk mendeposisi fibrin. Sedangkan Streptococcus mutans memiliki 3 enzim utama yang berperan dalam penyebaran infeksi gigi, yaitu streptokinase, streptodornase, dan hyaluronidase. Hyaluronidase adalah enzim yang bersifat merusak jembatan antar sel, yang pada fase aktifnya nanti, enzim ini berperan layaknya parang yang digunakan petani untuk merambah hutan.

Bakteri Streptococcus mutans (selanjutnya disingkat S.mutans) memiliki 3 macam enzim yang sifatnya destruktif, salah satunya adalah enzim hyaluronidase. Enzim ini berperan layaknya parang petani yang membuka hutan untuk dijadikan ladang persawahannya, ya.. enzim ini merusak jembatan antar sel yang terbuat dari jaringan ikat (hyalin/hyaluronat), kalau ditilik dari namanya “hyaluronidase”, artinya adalah enzim pemecah hyalin/hyaluronat. Padahal, fungsi jembatan antar sel penting adanya, sebagai transpor nutrisi antar sel, sebagai jalur komunikasi antar sel, juga sebagai unsur penyusun dan penguat jaringan. Jika jembatan ini rusak dalam jumlah besar, maka dapat diperkirakan, kelangsungan hidup jaringan yang tersusun atas sel-sel dapat terancam rusak/mati/nekrosis.

Proses kematian pulpa, salah satu yang bertanggung jawab adalah enzim dari S.mutans tadi, akibatnya jaringan pulpa mati, dan menjadi media perkembangbiakan bakteri yang baik, sebelum akhirnya mereka mampu merambah ke jaringan yang lebih dalam, yaitu jaringan periapikal.

Pada perjalanannya, tidak hanya S.mutans yang terlibat dalam proses abses, karenanya infeksi pulpo-periapikal seringkali disebut sebagai mixed bacterial infection. Kondisi abses kronis dapat terjadi apabila ketahanan host dalam kondisi yang tidak terlalu baik, dan virulensi bakteri cukup tinggi. Yang terjadi dalam daerah periapikal adalah pembentukan rongga patologis abses disertai pembentukan pus yang sifatnya berkelanjutan apabila tidak diberi penanganan.

Adanya keterlibatan bakteri dalam jaringan periapikal, tentunya mengundang respon keradangan untuk datang ke jaringan yang terinfeksi tersebut, namun karena kondisi hostnya tidak terlalu baik, dan virulensi bakteri cukup tinggi, yang terjadi alih-alih kesembuhan, namun malah menciptakan kondisi abses yang merupakan hasil sinergi dari bakteri S.mutans dan S.aureus.

S.mutans dengan 3 enzimnya yang bersifat destruktif tadi, terus saja mampu merusak jaringan yang ada di daerah periapikal, sedangkan S.aureus dengan enzim koagulasenya mampu mendeposisi fibrin di sekitar wilayah kerja S.mutans, untuk membentuk sebuah pseudomembran yang terbuat dari jaringan ikat, yang sering kita kenal sebagai membran abses (oleh karena itu, jika dilihat melalui ronsenologis, batas abses tidak jelas dan tidak beraturan, karena jaringan ikat adalah jaringan lunak yang tidak mampu ditangkap dengan baik dengan ronsen foto). Ini adalah peristiwa yang unik dimana S.aureus melindungi dirinya dan S.mutans dari reaksi keradangan dan terapi antibiotika.

Tidak hanya proses destruksi oleh S.mutans dan produksi membran abses saja yang terjadi pada peristiwa pembentukan abses ini, tapi juga ada pembentukan pus oleh bakteri pembuat pus (pyogenik), salah satunya juga adalah S.aureus. jadi, rongga yang terbentuk oleh sinergi dua kelompok bakteri tadi, tidak kosong, melainkan terisi oleh pus yang konsistensinya terdiri dari leukosit yang mati (oleh karena itu pus terlihat putih kekuningan), jaringan nekrotik, dan bakteri dalam jumlah besar.

Secara alamiah, sebenarnya pus yang terkandung dalam rongga tersebut akan terus berusaha mencari jalan keluar sendiri, namun pada perjalanannya seringkali merepotkan pasien dengan timbulnya gejala-gejala yang cukup mengganggu seperti nyeri, demam, dan malaise. Karena mau tidak mau, pus dalam rongga patologis tersebut harus keluar, baik dengan bantuan dokter gigi atau keluar secara alami.

Rongga patologis yang berisi pus (abses) ini terjadi dalam daerah periapikal, yang notabene adalah di dalam tulang. Untuk mencapai luar tubuh, maka abses ini harus menembus jaringan keras tulang, mencapai jaringan lunak, lalu barulah bertemu dengan dunia luar. Terlihat sederhana memang, tapi perjalanan inilah yang disebut pola penyebaran abses.

Pola penyebaran abses dipengaruhi oleh 3 kondisi, yaitu (lagi-lagi) virulensi bakteri, ketahanan jaringan, dan perlekatan otot. Virulensi bakteri yang tinggi mampu menyebabkan bakteri bergerak secara leluasa ke segala arah, ketahanan jaringan sekitar yang tidak baik menyebabkan jaringan menjadi rapuh dan mudah dirusak, sedangkan perlekatan otot mempengaruhi arah gerak pus.

Sebelum mencapai “dunia luar”, perjalanan pus ini mengalami beberapa kondisi, karena sesuai perjalanannya, dari dalam tulang melalui cancelous bone, pus bergerak menuju ke arah tepian tulang atau lapisan tulang terluar yang kita kenal dengan sebutan korteks tulang. Tulang yang dalam kondisi hidup dan normal, selalu dilapisi oleh lapisan tipis yang tervaskularisasi dengan baik guna menutrisi tulang dari luar, yang disebut periosteum. Karena memiliki vaskularisasi yang baik ini, maka respon keradangan juga terjadi ketika pus mulai “mencapai” korteks, dan melakukan eksudasinya dengan melepas komponen keradangan dan sel plasma ke rongga subperiosteal (antara korteks dan periosteum) dengan tujuan menghambat laju pus yang kandungannya berpotensi destruktif tersebut. Peristiwa ini alih-alih tanpa gejala, tapi cenderung menimbulkan rasa sakit, terasa hangat pada regio yang terlibat, bisa timbul pembengkakan, peristiwa ini disebut periostitis/serous periostitis. Adanya tambahan istilah “serous” disebabkan karena konsistensi eksudat yang dikeluarkan ke rongga subperiosteal mengandung kurang lebih 70% plasma, dan tidak kental seperti pus karena memang belum ada keterlibatan pus di rongga tersebut. Periostitis dapat berlangsung selama 2-3 hari, tergantung keadaan host.

Apabila dalam rentang 2-3 hari ternyata respon keradangan diatas tidak mampu menghambat aktivitas bakteri penyebab, maka dapat berlanjut ke kondisi yang disebut abses subperiosteal. Abses subperiosteal terjadi di rongga yang sama, yaitu di sela-sela antara korteks tulang dengan lapisan periosteum, bedanya adalah.. di kondisi ini sudah terdapat keterlibatan pus, alias pus sudah berhasil “menembus” korteks dan memasuki rongga subperiosteal, karenanya nama abses yang tadinya disebut abses periapikal, berubah terminologi menjadi abses subperiosteal. Karena lapisan periosteum adalah lapisan yang tipis, maka dalam beberapa jam saja akan mudah tertembus oleh cairan pus yang kental, sebuah kondisi yang sangat berbeda dengan peristiwa periostitis dimana konsistensi cairannya lebih serous.

Jika periosteum sudah tertembus oleh pus yang berasal dari dalam tulang tadi, maka dengan bebasnya, proses infeksi ini akan menjalar menuju fascial space terdekat, karena telah mencapai area jaringan lunak. Apabila infeksi telah meluas mengenai fascial spaces, maka dapat terjadi fascial abscess. Fascial spaces adalah ruangan potensial yang dibatasi/ditutupi/dilapisi oleh lapisan jaringan ikat. Fascial spaces dibagi menjadi :

  • Fascial spaces primer
  1. Maksila

a. Canine spaces

b. Buccal spaces

c. Infratemporal spaces

  1. Mandibula

a. Submental spaces

b. Buccal spaces

c. Sublingual spaces

d. Submandibular spaces

  • Fascial spaces sekunder

Fascial spaces sekunder merupakan fascial spaces yang dibatasi oleh jaringan ikat dengan pasokan darah yang kurang. Ruangan ini berhubungan secara anatomis dengan daerah dan struktur vital. Yang termasuk fascial spaces sekunder yaitu masticatory space, cervical space, retropharyngeal space, lateral pharyngeal space, prevertebral space, dan body of mandible space. Infeksi yang terjadi pada fascial spaces sekunder berpotensi menyebabkan komplikasi yang parah.

Terjadinya infeksi pada salah satu atau lebih fascial space yang paling sering oleh karena penyebaran kuman dari penyakit odontogenik terutama komplikasi dari periapikal abses. Pus yang mengandung bakteri pada periapikal abses akan berusaha keluar dari apeks gigi, menembus tulang, dan akhirnya ke jaringan sekitarnya, salah satunya adalah fascial spaces. Gigi mana yang terkena periapikal abses ini kemudian yang akan menentukan jenis dari fascial spaces yang terkena infeksi.

 

-        Canine spaces

Berisi musculus levator anguli oris, dan m. labii superior. Infeksi daerah ini disebabkan periapikal abses dari gigi caninus maksila. Gejala klinisnya yaitu pembengkakan pipi bagian depan dan hilangnya lekukan nasolabial. Penyebaran lanjut dari infeksi canine spaces dapat menyerang daerah infraorbital dan sinus kavernosus.

-        Buccal spaces

Terletak sebelah lateral dari m. buccinator dan berisi kelenjar parotis dan n. facialis. Infeksi berasal dari gigi premolar dan molar yang ujung akarnya berada di atas perlekatan m. buccinator pada maksila atau berada di bawah perlekatan m. buccinator pada mandibula. Gejala infeksi yaitu edema pipi dan trismus ringan.

-        Infratemporal spaces

Terletak di posterior dari maksila, lateral dari proc. Pterigoideus, inferior dari dasar tengkorak, dan profundus dari temporal space. Berisi nervus dan pembuluh darah. Infeksi berasaal dari gigi molar III maksila. Gejala infeksi berupa tidak adanya pembengkakan wajah dan kadang terdapat trismus bila infeksi telah menyebar.

-        Submental space

Infeksi berasal dari gigi incisivus mandibula. Gejala infeksi berupa bengkak pada garis midline yang jelas di bawah dagu.

-        Sublingual space

Terletak di dasar mulut, superior dari m. mylohyoid, dan sebelah medial dari mandibula. Infeksi berasal dari gigi anterior mandibula dengan ujung akar di atas m. mylohyoid. Gejala infeksi berupa pembengkakan dasar mulut, terangkatnya lidah, nyeri, dan dysphagia.

-        Submandibular space

Terletak posterior dan inferior dari m. mylohyoid dan m. platysma. Infeksi berasal dari gigi molar mandibula dengan ujung akar di bawah m. mylohyoid dan dari pericoronitis. Gejala infeksi berupa pembengkakan pada daerah segitiga submandibula leher disekitar sudut mandibula, perabaan terasa lunak dan adanya trismus ringan.

-        Masticator space

Berisi m. masseter, m. pterygoid medial dan lateral, insersi dari m. temporalis. Infeksi berasal dari gigi molar III mandibula. Gejala infeksi berupa trismus dan jika abses besar maka infeksi dapat menyebar ke lateral pharyngeal space. Pasien membutuhkan intubasi nasoendotracheal untuk alat bantu bernapas.

-        Lateral pharyngeal space (parapharyngeal space)

Berhubungan dengan banyak space di sekelilingnya sehingga infeksi pada daerah ini dapat dengan cepat menyebar. Gejala infeksi berupa panas, menggigil, nyeri dysphagia, trismus.

-        Retropharyngeal space (posterior visceral space)

Infeksi berasal dari gigi molar mandibula, dari infeksi saluran pernapasan atas, dari tonsil, parotis, telinga tengah, dan sinus. Gejala infeksi berupa kaku leher, sakit tenggorokan, dysphagia, hot potato voice, stridor. Merupakan infeksi fascial spaces yang serius karena infeksi dapat menyebar ke mediastinum dan daerah leher yang lebih dalam (menyebabkan kerusakan n. vagus dan n cranial bawah, Horner syndrome)

 

  1. C.    GEJALA
  • Gigi terasa sakit, bila mengunyah juga timbul nyeri.
  • Kemungkinan ada demam disertai pembengkakan kelanjar getah bening di leher.
  • Jika sangat berat, di daerah rahang terjadi pembengkakan.

 

GAMBARAN RADIOLOGIS

Pada pemerikasaan rontgen akan tampak gambaran radiolusen berbatas difus di periapikal.

 

  1. E.     DIAGNOSA

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.

 

  1. TERAPI

Pada dasarnya, prinsip terapi abses adalah insisi untuk drainase (mengeluarkan cairan pus), dengan catatan, prinsip ini dipergunakan untuk abses yang berada di jaringan lunak. Pada abses periapikal memiliki “kondisi” khas berupa gigi mengalami karies besar dan terasa menonjol, sakit bila digunakan mengunyah, kadang terasa ada cairan asin keluar dari gigi yang berlubang tersebut. Terapi kegawat-daruratannya dalam kondisi ini tentunya belum dapat dilakukan insisi, oleh karena pus berada dalam tulang, namun yang dapat dilakukan adalah melakukan prosedur open bur, melakukan eksterpasi untuk mengeluarkan jaringan nekrotik, oklusal grinding, dan pemberian terapi farmakologi. Terapi yang dilakukan adalah insisi, drainase dan pemberian antibiotik.

 

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

Dari anamnesa dan pemeriksaan fisik didapatkan bahwa pasien didiagnosa periapikal abses oleh karena gangrene pulpa pada elemen gigi   6   dengan differential diagnose submandibular abses.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Chaker, F.M. : Dent. Clin. North Am., 18:393, 1974 dalam Grossman, L.I., Oliet, S. & Del Rio, C.E. 1988. Endodontic practice. 11 th ed. Philadelphia : Lea & Febiger.

Oliet, S. & Pollock,S. : Bull. Phila. Dent. Soc., 34:12, 1968 dalam Grossman, L.I., Oliet, S. & Del Rio, C.E. 1988. Endodontic Practice. 11 th ed. Philadelphia :Lea & Febiger.

Gilangrasuna. Juni 2010.  Mari Belajar!, Penjalaran Infeksi Odontogen. Patogenesa, Pola Penyebaran, dan Prinsip Terapi Abses Rongga Mulut. Available at http//www. Abses periapikal. com 

Mazur, B., & Massler, M. : Oral Surg., 17 : 592. 1964 dalam Grossman, L.I., Oliet, S. & Del Rio, C.E. 1988. Endodontic Practice. 11 th ed. Philadelphia : Lea & Febiger.


BAB I

LAPORAN KASUS

 

  1. I.                   IDENTITAS

Nama                     : Tn.R

Alamat                  : Sumber Pucung kepanjen

Umur                     : 35 tahun

Jenis Kelamin        : laki-laki

Pekerjaan               : PNS

Status                    : sudah menikah

Tanggal periksa     : rabu, 15 desember 2010

Rekam medis        : 240923

 

  1. II.                RIWAYAT KASUS
  1. Keluhan Utama                     : gigi goyang di sebelah depan bawah

  Gigi berlubang disebelah kiri bawah

Ingin membersihkan karang gigi

  1. Riwayat penyakit sekarang  : gigi goyang disebelah depan bawah sejak ± 2bulan yang lalu. Gigi pasien juga berlubang  disebelah kiri bawah belakang sejak ± 2bulan yang lalu, tidak terasa sakit ataupun nyeri.
  2. Riwayat perawatan               :
  1. Gigi                                   : pernah tambal gigi (gigi sebelah kiri atas) dan sekarang terasa ngilu.
  2. Jar.lunak R. mulut&sekitarnya      : tidak ditemukan
  1. Riwayat kesehatan
  • Kelainan darah                              : Pasien mengaku tidak ada kelainan
  • Kelainan endokrin                         : Pasien mengaku tidak ada kelainan
  • Gangguan nutrisi                           : Pasien mengaku tidak ada kelainan
  • Kelainan jantung                           : Pasien mengaku tidak ada kelainan
  • Kelainan kulit/ kelamin                 : Pasien mengaku tidak ada kelainan
  • Gangguan pencernaan                   : Pasien mengaku tidak ada kelainan
  • Gangguan respiratori                     : Pasien mengaku tidak ada kelainan
  • Kelainan imunologi                       : Pasien mengaku tidak ada kelainan
  • Gangguan TMJ                             : Pasien mengaku tidak ada kelainan
  • Tekanan darah                               : Pasien mengaku tidak ada kelainan
  • Diabetes mellitus                           : Pasien mengaku tidak ada kelainan
  • Lain-lain                                        : Pasien mengaku tidak ada kelainan
  1. Obat-obatan yang telah /sedang dijalani : (-)
  2. Keadaan sosial/kebiasaan                 : Menengah / tidak merokok
  3. Riwayat Keluarga :

a. Kelainan darah                    : Pasien mengaku tidak ada kelainan

b. Kelainan endokrin               : Pasien mengaku tidak ada kelainan

c. Diabetes melitus                  : Pasien mengaku tidak ada kelainan

d. Kelainan jantung                 : Pasien mengaku tidak ada kelainan

e. Kelainan syaraf                   : Pasien mengaku tidak ada kelainan

f. Alergi                                   : Pasien mengaku tidak ada kelainan

g. lain-lain                               : -

  1. III.             PEMERIKSAAN KLINIS
  2. 1.      EKSTRA ORAL :
    1. Muka                                             : simetris
    2. Pipi kiri                                          : tidak ada kelainan

Pipi kanan                                                 : tidak ada kelainan

  1. Bibir atas                                       : tidak ada kelainan

bibir bawah                                   : tidak ada kelainan

  1. Sudut mulut                                  : tidak ada kelainan
  2. Kelenjar submandibularis kiri       : tidak teraba/ tidak ada kelainan

Kelenjar submandibularis kanan : tidak teraba/ tidak ada kelainan

  1. Kelenjar submentalis                     : tidak teraba/ tidak ada kelainan
  2. Kelenjar leher                                : tidak teraba/ tidak ada kelainan
  3. Kelenjar sublingualis                     : tidak teraba/ tidak ada kelainan
  4. Kelenjar parotis                             : tidak teraba/ tidak ada kelainan
  5. Lain-lain                            : (-)

2. INTRA ORAL :

  1. Mukosa labial atas                   : tidak ada kelainan

Mukosa labial bawah              : tidak ada kelainan

  1. Mukosa pipi kiri                      : tidak ada kelainan

Mukosa pipi kanan                  : tidak ada kelainan

  1. Bukal fold atas                        : tidak ada kelainan

Bukal fold bawah                   : tidak ada kelainan

  1. Labial fold atas                       : tidak ada kelainan

Labial fold bawah                   : tidak ada kelainan

  1. Ginggiva rahang atas              : tidak ada kelainan

Ginggiva rahang bawah kiri    : Hiperemis /kemerahan

  1. f.        Lidah                                       : tidak ada kelainan
  2. Dasar mulut                             : tidak ada kelainan
  3. Palatum                                   : tidak ada kelainan
  4. Tonsil                                      : tidak ada kelainan
  5. Pharynx                                   : tidak ada kelainan
  6. Lain – lain                               : tidak ada kelainan

Keterangan :

T          : tambal

K         : karies

  • Karang gigi region rahang atas/ rahang bawah
  • Periodontitis kronis oleh karena karang gigi   3

 

IV. DIAGNOSE SEMENTARA :

  • periodontitis
  • karies
  • karang gigi

V. RENCANA PERAWATAN :

Pro: tambal

Pro : scaling rahang gigi atas/rahang bawah

1. Pengobatan : (-)

2. Pemeriksaan Penunjang :

Lab.Rontgenologi mulut/ Radiologi   : (-)

Lab.Patologi anatomi                          : (-)

  • Sitologi                                    : (-)
  • Biopsi                                      : (-)

 

Lab.Mikrobiologi                                : (-)

  • Bakteriologi                            : (-)
  • Jamur                                       : (-)

Lab.Patologi Klinik                             : (-)

3. Rujukan :

Poli Penyakit Dalam                           : (-)

Poli THT                                             : (-)

Poli Kulit & Kelamin                          : (-)

Poli Syaraf                                          : (-)

 

VI. DIAGNOSE AKHIR :

Periodontitis kronis oleh karena karang gigi

Karies dentin

 

LEMBAR PERAWATAN

Tanggal Elemen Diagnosa Therapi Keterangan
15 desember 2010 Periodontitis kronis o.k. karang gigi Pro : scalling Kontrol 7 hari lagi
15 desember 2010 Karies dentin Pro: tambal

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.    DEFINISI

Periodontitis adalah peradangan atau infeksi pada jaringan penyangga gigi (= jaringan periodontium). Yang termasuk jaringan penyangga gigi adalah gusi, tulang yang membentuk kantong tempat gigi berada, dan ligamen periodontal (selapis tipis jaringan ikat yang memegang gigi dalam kantongnya dan juga berfungsi sebagai media peredam antara gigi dan tulang).

Suatu keadaan dapat disebut periodontitis bila perlekatan antara jaringan periodontal dengan gigi mengalami kerusakan. Selain itu tulang alveolar (= tulang yang
menyangga gigi) juga mengalami kerusakan. Periodontitis dapat berkembang dari gingivitis (peradangan atau infeksi pada gusi) yang tidak dirawat. Infeksi akan meluas dari gusi ke arah tulang di bawah gigi sehingga menyebabkan kerusakan yang lebih luas pada jaringan periodontal.

 

  1. B.     PATOFISIOLOGI

Suatu keadaan dapat disebut periodontitis bila perlekatan antara jaringan periodontal dengan gigi mengalami kerusakan. Selain itu tulang alveolar (= tulang yang menyangga gigi) juga mengalami kerusakan.

Periodontitis dapat berkembang dari gingivitis (peradangan atau infeksi pada gusi) yang tidak dirawat. Infeksi akan meluas dari gusi ke arah tulang di bawah gigi sehingga menyebabkan kerusakan yang lebih luas pada jaringan periodontal.

Bila ini terjadi, gusi dapat mengalami penurunan, sehingga permukaan akar terlihat dan sensitivitas gigi terhadap panas dan dingin meningkat. Gigi dapat mengalami kegoyangan karena adanya kerusakan tulang.

 

  1. C.    GEJALA

Kadang pasien tidak merasakan rasa sakit ataupun gejala lainnya. Biasanya tanda-tanda yang dapat diperhatikan adalah :

  • Gusi berdarah saat menyikat gigi
  • Gusi berwarna merah, bengkak, dan lunak.
  • Terlihat adanya bagian gusi yang turun dan menjauhi gigi.
  • Terdapat nanah di antara gigi dan gusi.
  • Gigi goyang.

 

  1. PEMERIKSAAN

Dokter gigi biasanya akan melakukan pemeriksaan klinis pada jaringan gusi dan melihat apakah ada gigi-gigi yang mengalami kegoyangan. Hubungan antara gigi-gigi rahang atas dan bawah saat menggigit juga akan diperiksa.

Kemudian dokter gigi akan melakukan pemeriksaan yang disebut periodontal probing, yaitu teknik yang digunakan untuk mengukur kedalaman poket (kantong yang terbentuk di antara gusi dan gigi). Kedalaman poket ini dapat menjadi salah satu petunjuk seberapa jauh kerusakan yang terjadi.

Sebagai tambahan, pemeriksaan radiografik (x-rays) juga perlu dilakukan untuk melihat tingkat keparahan kerusakan tulang.

 

  1. E.     PREVENTIV (PENCEGAHAN)

Terdapat beberapa langkah-langkah preventif terhadap penyakit periodontal sebagai berikut :

  1. Perlunya mengenal kelainan-kelainan periodontal seperti gingivitis marginal yang sering terjadi maupun bentuk lainnya seperti gingivitis atrofi/deskuamatif. Bahkan penanganan harus segera diberikan apabila Acute Necrotizing Ulcerative Gingivostomatitis ( ANUG) dikarenakan kelainan ini memiliki tingkat destruktif yang tinggi. Kelainan periodontal lanjut juga harus dikenali seperti sudah terbentuknya true pocket, periodontitis marginal maupun abses periodontal. Walaupun pada kelainan-kelainan lanjut ini gigi masih mungkin vital tetapi resorpsi tulang alveolar umumnya sudah berlangsung dan penanganan lebih lanjut diperlukan.
  2. Mengenal faktor-faktor lokal terkait seperti calculus/tartar/karang gigi , material alba, food impact dan tentunya dental plak. Dengan demikian pembersihan dan eliminasi factor-faktor tersebut dapat segera dilakukan. Calculus merupakan deposit keras karena mengalami kalsifikasi , keberadaannya terutama pada daerah servikal gigi akan menjadi iritan kronis terhadap gingival sehingga proses peradangan cepat atau lambat akan terjadi. Masih ada faktor lokal yang harus dikenal dan ditangani seperti trauma oklusal misal karena gigi yang impacted dan malposisi, kebiasaan-kebiasaan jelek seperti bruxism-clenching dan bernapas dengan mulut. Pengenalan cara sikat gigi yang tepat juga diperlukan karena cara sikat gigi yang salah seperti arah horizontal akan menimbulkan abrasi maupun resesi gingival.
  3. Oral Hygiene Instruction ( OHI)

Merupakan pesan-pesan pendidikan kesehatan gigi dan mulut. Pasien perlu dijelaskan mengenai pentingnya menjaga oral hygiene sehingga mereka dapat menyadari sendiri kegunaan bagi dirinya.Kesadaran sendiri itu sangat perlu, merupakan obat pencegah yang paling manjur. Salah satu cara pendekatan yang baik dan mudah dilakukan adalah dengan menunjukkan dengan kaca saat pemeriksaan gigi dilakukan oleh dokter gigi kepada pasien itu sendiri, dengan demikian mereka dapat melihat sendiri seberapa ‘menakutkan’ gambaran penyakit gigi yang mereka derita sambil dijelaskan komplikasi dan bahaya-bahaya yang dapat menyertai kelainan tersebut kemudian. Penjelasan bahwa kebanyakan penyakit-penyakit tersebut berawal mula dari pembentukan dental plak perlu pula dijelaskan dengan demikian mereka pun dapat mengetahui pentingnya upaya eliminasi dari plak yang sudah terbentuk dan upaya-upaya pencegahan pembentukannya lebih lanjut.

Pengenalan cara-cara sehari-hari yang efektif dalam menjaga oral hygiene seperti :

  1. sikat gigi

semua orang sudah tahu tentunya cara yang satu ini, mungkin juga sudah dilakukan setiap hari. Jadi yang penting disini adalah pengenalan teknik sikat gigi yang tepat, memotivasi untuk sikat gigi secara teratur dan pemilihan pasta gigi dengan tepat. Teknik sikat gigi yang secara horizontal adalah lazim dikenal umum, dan itu merupakan suatu kesalahan karena dengan cara demikian lambat laun dapat menimbulkan resesi gingival dan abrasi gigi. Lebih lanjut lagi, penyakit-penyakit periondontal akan lebih mudah terjadi.

Pemilihan bulu sikat yang halus juga penting supaya  tidak melukai gusi. Hendaknya sikat gigi diganti sekurang-kurangnya tiap sebulan sekali, dengan demikian bulu sikat masih tetap efektif dalam membersihkan gigi. Pasta gigi berfluoride selayaknya dipilih karena dari penelitian kandungan fluoride tersebut mampu menurunkan angka karies melalui 2 hal ; mengeliminasi dental plak yang merupakan cikal bakal karies serta suplemen topikal fluoride bagi gigi sebagai mineral protektif penting terhadap karies.

  1. Kumur-kumur antiseptik( Oral Rinse)

Terdapat berbagai bahan aktif yang sering digunakan sebagai kumur-kumur. Yang dijual bebas umumnya berasal dari minyak tumbuh-tumbuhan seperti metal salisilat ( seperti pada produk Listerine ), sedangkan yang perlu diresepkan dokter adalah chlorhexidine 0.20 % ( seperti pada produk minosep) dan H2O2 1.5 % atau 3.0 %. Kumur-kumur yang lebih murah dan cukup efektif adalah dengan air garam hangat.

Sebenarnya kumur-kumur lebih diperlukan pada penyakit-penyakit gusi dan periodontal sedangkan dalam penggunaan sehari-hari tidak terbukti dalam mencegah karies,apalagi jika penggunaannya tidak diawali dengan sikat gigi. Jadi penting untuk diketahui bahwa kumur-kumur bukanlah pengganti sikat gigi dan sikat gigi masih menjadi upaya pencegahan terpenting dari penyakit-penyakit gigi, khususnya karies. Bahkan jika kumur-kumur terlalu sering digunakan akan menyebabkan flora normal mulut akan mati dan merangsang pertumbuhan candida serta juga membuat mulut dan menjadi kering seperti terbakar.

  1. Dental floss atau benang gigi

akhir-akhir ini cara ini mulai banyak diperkenalkan , dan cukup ampuh untuk membersihkan di sela-sela gigi. Tapi teknik harus dimengerti dengan tepat karena jikalau tidak, alih-alih mencegah penyakit periodontal, yang terjadi malah melukai gusi dan membuat radang.

  1. Pembersih lidah

Mulai banyak digunakan, baik untuk membersihkan dorsum lingual yang seringkali luput kita bersihkan saat sikat gigi. Tumpukan debris di dorsum lidah penuh dengan kuman-kuman oportunis serta candida yang bermukim sebagai flora normal maupun transient. Penjelasan mengenai cara lagi-lagi diperlukan.

 

  1. Kontrol ke dokter gigi secara teratur diperlukan sebagai salah satu upaya preventif, karena merekalah ahlinya dan terkadang kita sendiri seringkali luput mengamati perubahan pada gigi dan gusi yang masih kecil. Bagi mereka yang pernah menderita penyakit periodontal disarankan untuk kontrol secara teratur ke dokter gigi setiap 3 bulan sekali.

Pencegahan Periodontitis

  • Sikat gigi dua kali sehari, pada pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur.
  • Lakukan flossing sekali dalam sehari untuk mengangkat plak dan sisa makanan yang tersangkut di antara celah gigi-geligi.
  • Pemakaian obat kumur anti bakteri untuk mengurangi pertumbuhan bakteri dalam mulut, misalnya obat kumur yang mengandung chlorhexidine. Lakukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter gigi Anda dalam penggunaan obat kumur tersebut.
  • Berhenti merokok
  • Lakukan kunjungan secara teratur ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali untuk kontrol rutin dan pembersihan.

 

  1. F.     PENATALAKSANAAN dan PERAWATAN

Apabila kelainan periodontal telah terjadi, terapi dan erawatan lanjut diperlukan. Umumnya terapi non invasive yang dilakukan pada kasus-kasus penyakit periodontal adalah :

  1. Scaling : tindakan semacam pengeboran untuk melepaskan kalkulus dari tempat perlekatannya pada gigi. ( Umumnya kalkulus supragingiva berlokasi pada sisi bukal dari gigi-gigi molar rahang atas dan sisi lingual dari gigi-gigi anterior rahang bawah). Tindakan ini diperlukan karena kalkulus merupakan deposit yang terkalsifikasi sehingga merekat keras dan tidak hilang dengan sikat gigi.
  2. Kuretase : tindakan pembersihan periodontal pocket yang berisi banyak food debris maupun kuman untuk mencegah peradangan lanjut.
  3. Antibiotik : apabila terbukti keterlibatan kuman baik secara klinis maupun mikrobiologis, maka antibiotic mutlak diperlukan. Pada umumnya antibiotic yang digunakan pada penyakit-penyakit gigi adalah golongan penisilin karena kuman yang sering menjadi causa-nya sensitive terhadap golongan ini. Tetapi pada penyakit periodontal, terutama yang lanjut, perlu dipertimbangkan keterlibatan kuman-kuman gram negative serta anaerob, sehingga dengan demikian pilihan antibiotic jatuh pada tetrasiklin ( seringakali digantikan dengan golongan aminopenisilin karena ber spectrum luas juga) atau metronidazol karena efektivitas terhadap anaerob. Pemberian dapat berupa per oral maupun lokal seperti gel, tergantung dari luasnya dan tahap proses penyakit.
  4. Kumur-kumur antiseptic : terutama yang sering digunakan adalah Chlorhexidine 0.20 %. Kumur-kumur sekurangnya 1 menit sebanyak 10 cc terbukti efektif dalam meredakan proses peradangan pada jaringan periodontal.
  5. Analgetik-anti inflamasi : untuk meredakan gejala simtomatik

 

Pada kasus-kasus periodontitis yang belum begitu parah, biasanya perawatan yang diberikan adalah root planing dan kuretase, yaitu pengangkatan plak dan jaringan yang rusak dan mengalami peradangan di dalam poket dengan menggunakan kuret. Tujuan utamanya adalah menghilangkan semua bakteri dan kotoran yang dapat menyebabkan peradangan. Setelah tindakan ini, diharapkan gusi akan mengalami penyembuhan dan perlekatannya dengan gigi dapat kembali dengan baik.

Pada kasus-kasus yang lebih parah, tentunya perawatan yang diberikan akan jauh lebih kompleks. Bila dengan kuretase tidak berhasil dan kedalaman poket tidak berkurang, maka perlu dilakukan tindakan operasi kecil yang disebut gingivectomy. Tindakan operasi ini dapat dilakukan di bawah bius lokal.

Pada beberapa kasus tertentu yang sudah tidak bisa diatasi dengan perawatan di atas, dapat dilakukan operasi dengan teknik flap, yaitu prosedur yang meliputi pembukaan jaringan gusi, kemudian menghilangkan kotoran dan jaringan yang meradang di bawahnya.

Antibiotik biasanya diberikan untuk menghentikan infeksi pada gusi dan jaringan di bawahnya. Perbaikan kebersihan mulut oleh pasien sendiri juga sangat penting.

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

Dari anamnesa dan pemeriksaan fisik didapatkan bahwa pasien didiagnosa Periodontitis kronis oleh karena karang gigi                 dan Karies dentin

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Haber J, Wattles J, Crowley M, Mandell R, Joshipurak K, Kent RL. Evidence for cigarette smoking as a major risk factor for periodontitis. J Periodontol 1993; 64:16-23.

Tim penyusun. 2010. Gigi & Mulut Periodontitis (Penyakit Gusi). Available at http//www. Klik dokter menuju Indonesia Sehat. Com

Tim penyusun. 2010. Periodontitis bukan perdarahan gusi biasa. Available at http//www. Majalah kesehatan sumber informasi kesehatan Anda. Com

The American Academy of Periodontology. The pathogenesis of periodontal diseases (position paper). J Periodontol 1999;70:457-470.

 


BAB I

PENDAHULUAN

 

Lidah merupakan salah satu organ penting pada tubuh manusia yang memiliki banyak fungsi. Lidah memiliki peran dalam proses pencernaan, mengisap, menelan, persepsi rasa, bicara, respirasi, dan perkembangan rahang. Lidah dapat mencerminkan kondisi kesehatan seseorang sehingga digunakan sebagai indikator untuk mengetahui kesehatan oral dan kesehatan umum pasien.

Lidah dapat mengalami anomali berupa kelainan perkembangan, genetik, dan enviromental. Penyakit-penyakit lokal dan sistemik juga mempengaruhi kondisi lidah dan menimbulkan kesulitan pada lidah yang biasanya menyertai keterbatasan fungsi organ ini. Lesi pada lidah memiliki diagnosa banding yang sangat luas yang berkisar dari proses benigna yang idiopatik sampai infeksi, kanker dan kelainan infiltratif. Bagaimanapun, lesi lidah yang terlokalisasi dan non-sistemik lebih sering dijumpai.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

  1. A.    Pengertian Lidah

Lidah merupakan massa jaringan pengikat disusun otot lurik yang diliputi oleh membran mukosa. Membran mukosa melekat erat pada otot karena jaringan penyambung lamina propia menembus ke dalam ruang-ruang antar berkas-berkas otot. Pada bagian bawah lidah membran mukosanya halus. Lidah juga merupakan suatu rawan (cartilago) yang akarnya tertanam pada bagian posterior rongga mulut (cavum oris) dekat dengan katup epiglotis yang menuju ke laryng. Lidah merupakan bagian tubuh penting untuk indra pengecap yang terdapat kemoreseptor (bagian yang berfungsi untuk menangkap rangsangan kimia yang larut pada air) untuk merasakan respon rasa asin, asam, pahit dan rasa manis. Tiap rasa pada zat yang masuk ke dalam rongga mulut akan direspon oleh lidah di tempat yang berbeda-beda.

 

B. Bagian-bagian lidah

Pada mamalia dan vertebrata yang lain, pada lidahnya terdapat reseptor untuk rasa. Reseptor ini peka terhadap stimulus dari zat-zat kimia, sehingga disebut kemoreseptor. Reseptor tersebut adalah kuncup-kuncup pengecap. Kuncup tersebut berbentuk seperti bawang kecil atau piala dan terletak dipermukaan epitelium pada permukaan atas lidah. Kadang juga dijumpai pada langit-langit rongga mulut, faring dan laring, walaupun sedikit sekali. Kuncup-kuncup pengecap ini ada yang tersebar dan ada pula yang berkelompok dalam tonjolan-tonjolan epitel yang disebut papilla. Terdapat empat jenis papilla:

1. Filiformis

  • terdapat di bagian posterior
  • berbentuk penonjolan konis, sangat banyak diseluruh permukaan lidah
  • epitel tidak mengandung putting pengecap
  • epitel berambut

2. Fungiformis

  • di bagian anterior dan diantara filiformis
  • menyerupai jamur karena menpunyai tangkai sempit dan permukaan yang halus, bagian atas melebar
  • mengandung putting kecap, tersebar di permukaan atas
  • epitel berlapis pipih tak menanduk

3. Foliatel

  • pada pangkal lidah bagian lateral, terdapat beberapa tonjolan-tonjolan padat
  • bentuk: sirkumvalata
  • banyak putting kecap

4. Circumfalate

  • papillae yang sangat besar dengan permukaannya yang pipih meluas di atas papillae lain, susunan seperti parit
  • tersebar di daerah “V” bagian posterior lidah
  • banyak kelenjar mukosa dan serosin
  • banyak putting kecap yang terdapat di sepanjang sisi papilla

 

Setiap kuncup pengecap terdiri dari dua macam sel, yaitu sel pengecap dan sel penunjang, pada sel pengecap terdapat silia (rambut gustatori) yang memanjang ke lubang pengecap. Zat-zat kimia dari makanan yang kita makan, mencapai kuncup pengecap melalui lubang-lubang pengecap (taste pores). Kuncup-kuncup pengecap dapat merespon empat rasa dasar, yaitu manis, masam, asin dan pahit. Letak masing-masing rasa berbeda-beda yaitu :

1. Rasa Asin = Lidah Bagian Depan

2. Rasa Manis = Lidah Bagian Tepi

3. Rasa Asam / Asem = Lidah Bagian Samping

4. Rasa Pahit / Pait = Lidah Bagian Belakang

 

C. Fungsi lidah

1. Menunjukkan kondisi tubuh

Selaput lidah manusia dapat digunakan sebagai indikator metabolisme tubuh, terutama kesehatan tubuh manusia. Setiap lidah manusia sering terdapat selaput berwarna putih, semakin tebal lapisannya menandakan adanya aktivitas faktor patogen yang kuat seperti masuk angin, tingkat dahak, panas tubuh akibat infeksi dan retensi makanan, jika tidak ada selaput lidah mengindikatorkan adanya ganguan ginjal dan kandung empedu.

 

 

  1. Warna Lidah
  • Kuning menandakan adanya infeksi bakteri, jika warna kuning menuju kehijauan adanya infeksi bakteri akut.
  • Merah menandakan aktivitas panas tubuh, jika hanya terdapat pada ujung lidah berarti adanya panas pd jantung,jika terdapat pada sisi kanan kiri menandakan adanya ganguan ginjal dan kandung empedu.
  • Ungu berarti adanya aktivitas statis darah, darah tidak lancar dan ada gangguan.
  • Biru menandakan adanya aktivitas dingin yang menyebabkan statis darah.
  • Tipis ,jika bentuk lidah tipis dan berwarna pucat menandakan defisiensi (kekurangan ) darah yang berhubungan dengan hati semakin pucat semakin parah gangguan hati
  • Tebal ,sirkulasi darah tidak normal menandakan gangguan ginjal dan limpa
  • Kaku ,menandakan masuk angin
  • panjang,adanya akivitas panas pada jantung
  • Retak,adanya ganguan pada lambung limpa dan jantung
  1. Bentuk Lidah

2. Membasahi makanan di dalam mulut

Kelenjar sublingualis, terletak di bawah lidah

3. Mengecap atau merasakan makanan

4. Membolak-balik makanan

5. Menelan makanan

6. Mengontrol suara dan dalam mengucapkan kata-kata

 

D. Gangguan pada lidah

1. Luka

luka berat adalah hal yang paling sering menyebabkan ketidaknyamanan lidah. Lidah tersebut mempunyai banyak ujung saraf untuk rasa sakit dan peraba dan lebih peka terhadap rasa sakit dibandingkan kebanyakan bagian lain pada tubuh. Lidah sering tiba-tiba tergigit tetapi cepat sembuh. Gigi yang tajam atau rusak bisa sangat merusak jaringan yang mudah rusak tersebut.

2. ‘Berbulu’

pertumbuhannya terlalu cepat dari proyeksi normal di atas lidah (Vili) bisa membuat lidah tampak berbulu. Lidah tersebut bisa juga tampak berbulu setelah demam, setelah pengobatan antibiotik, atau ketika pencuci mulut peroxide digunakan terlalu sering. ‘Bulu’ ini pada ujung lidah tidak perlu dibingungkan dengan leukoplakia berbulu. Leukoplakia berbulu terbentuk di sisi lidah dan merupakan karakteristik AIDS.

3. Perubahan warna

Villi lidah bisa menjadi berubah warna jika seseorang merokok atau mengunyah tembakau, makan makanan tertentu, atau memiliki bakteri berwarna yang berkembang pada lidah. Ujung lidah bisa terlihat berwarna hitam jika seseorang menggunakan sediaan bismuth untuk gangguan perut. Penyikatan lidah dengan menggunakan sikat gigi atau kikisan dengan pengikis lidah bisa menghilangkan beberapa perubahan warna. Anemia kekurangan zat besi bisa membuat lidah terlihat pucat dan lembut.

Anemia pernicious, yang disebabkan oleh kekurangan Vitamin B12, bisa juga membuat lidah terlihat pucat dan lembut. Tanda pertama pada demam scarlet kemungkinan berubah dari warna normal lidah menjadi warna strawberi, dan kemudian warna rasberi. Lidah merah-strawberi pada anak kecil bisa juga menjadi sebuah tanda penyakit Kawasaki. Lidah merah lembut dan mulut menyakitkan bisa mengindikasi pellagra, sebuah jenis kekurangan gizi yang disebabkan oleh kekurangan niacin (Vitamin B3) pada makanan. Lidah merah bisa juga meradang (glossitis)-lidah tersebut merah, menyakitkan, dan bengkak. Bercak keputih-putihan, serupa dengan apa yang ditemukan di dalam pipi, bisa disertai demam, dehidrasi, sifilis tahap kedua, sariawan, lichen planus, leukoplakia, atau gangguan pernafasan mulut.

Pada geografis lidah, beberapa daerah lidah berwarna putih atau kuning dan kasar, sebaliknya bagian lain berwarna merah dan lembut. Daerah tersebut berubah warna terjadi sekitar lebih dari satu periode mingguan sampai tahunan. Keadaan tersebut biasanya tidak menyakitkan, dan tidak memerlukan pengobatan.

4. Luka dan benjolan

luka pada lidah bisa disebabkan oleh reaksi alergi, infeksi virus herpes simplex mulut, luka sariawan, tuberculosis, infeksi bakteri, atau sifilis tahapawal. Luka bisa juga disebabkan oleh alergi atau gangguan sistem kekebalan lainnya. Meskipun benjolan kecil pada kedua sisi lidah biasanya tidak berbahaya, sebuah benjolan hanya pada salah satu sisi bisa bersifat kanker. Daerah berwarna putih atau merah yang tidak bisa dijelaskan, luka, atau bengkak (menjadi keras) pada lidahkhususnya jika tidak terasa sakit-kemungkinan tanda kanker dan harus diteliti oleh seorang dokter atau dokter gigi. Kebanyakan kanker mulut tumbuh pada salah satu sisi lidah atau pada dasar mulut. Kanker hampir tidak pernah muncul di ujung lidah, kecuali ketika kanker tersebut terjadi setelah sifilis yang tidak diobati.

5. Rasa tidak nyaman

Lidah yang tidak nyaman bisa dihasilkan dari iritasi oleh makanan tertentu, khususnya yang asam (misal, nanas), atau rasa tertentu di dalam pasta gigi, pencuci mulut, permen, atau permen karet. Beberapa obat-obatan bisa menyebabkan rasa tidak nyaman pada lidah, sama seperti luka dan infeksi bisa lakukan. Infeksi umum yang menyebabkan rasa tidak nyaman pada lidah adalah thrush (candidiasis), dimana jamur berbentuk lapisan putih pada gigi yang terlalu cepat bertumbuh yang menutupi lidah. Nyeri intensif pada seluruh mulut bisa disebabkan oleh sindrom mulut terbakar. Biasanya, hal ini adalah proses eliminasi untuk menemukan hanya apa yang menyebabkan rasa tidak nyaman. Rasa tidak nyaman pada lidah tidak disebabkan oleh infeksi biasanya diobati dengan menghilangkan penyebab tersebut. Misal, orang tersebut bisa mencoba untuk merubah merek pasta gigi, menghentikan makanan yang mengiritasi, atau memperbaiki gigi yang tajam atau patah oleh seorang dokter gigi. Mencuci dengan air garam hangat bisa membantu. Sariawan bisa diobati dengan obat anti jamur, seperti nystatin atau fluconazole.

6. Oral candidosis

Penyebabnya adalah jamur yang disebut candida albicans. Gejalanya lidah akan tampak tertutup lapisan putih yang dapat dikerok.

7. Atropic glossitis

Atrophic glossitis adalah suatu penyakit yang ditandai dengan kondisi lidah yang kehilangan rasa karena degenerasi ujung papil (bagian menonjol pada selaput yang berlendir di bagian atas lidah).

Penyakit ini juga sering ditemukan. Lidah akan terlihat licin dan mengkilat baik seluruh bagian lidah maupun hanya sebagian kecil. Penyebab yang paling sering biasanya adalah kekurangan zat besi. Jadi banyak didapatkan pada penderita anemia.

 

8. Geografic tongue

Lidah seperti peta, berpulau-pulau. Baik banyak maupun sedikit. Bagian pulau itu berwarna merah dan lebih licin dan bila parah akan dikelilingi pita putih tebal.

9. Fissured tongue.

Lidah akan terlihat pecah-pecah. Kadang garis hanya satu ditengah, kadang juga bercabang-cabang.

10. Glossopyrosis

Kelainan ini berupa keluhan pada lidah dimana lidah terasa sakit dan panas dan terbakar tetapi tidak ditemukan gejala apapun dalam pemeriksaan. Hal ini kebanyakan karena psikosomatis dibandingkan dengan kelainan pada syaraf.

11. Burning Mouth Syndrome (dysesthesia)

terjadi sangat sering pada wanita setelah menopause. Bagian mulut yang paling sering terkena adalah lidah (nyeri pada lidah disebut glossodynia). Rasa terbakar menyakitkan bisa mempengaruhi seluruh mulut (terutama lidah, bibir, dan atap mulut [palate]) atau hanya lidah. Rasa tersebut kemungkinan berlanjut atau sebentar-sebentar disertai rasa terbakar termasuk mulut kering, haus, dan rasa yang berubah. Kemungkinan konsekwensi termasuk perubahan kebiasaan makan, sifat lekas marah, depresi, dan penghindaran pada orang lain. Sindrom mulut terbakar tidak sama dengan rasa tidak nyaman sementara yang kebanyakan orang alami setelah makanan yang mengiritasi atau makanan asam. Sindrom mulut terbakar kurang baik dipahami. Yang kemungkinan menghadirkan sejumlah keadaan yang berbeda dengan penyebab yang berbeda tetapi gejala yang umum.

Penyebab umum adalah penggunaan antibiotik, yang merubah keseimbangan bakteri di dalam mulut, menyebabkan jamur candida sangat berkembangbiak (keadaan yang disebut sariawan). Gigi palsu yang tidak pas dan alergi terhadap bahan-bahan gigi kemungkinan penyebab paling mungkin. Penggunaan berlebihan pada pencuci dan semprotan mulut yang bisa menyebabkan sindrom lidah terbakar, seperti apa saja yang membuat mulut kering, seperti alkohol atau penggunaan tembakau, dan berbagai pengobatan. Kepekaan terhadap makanan tertentu dan pewarna makanan, terutama sekali asam sorbic dan asam benzoat (bahan pengawet makanan), propylene glycol (ditemukan sebagai moustirising agen pada makanan, obat-obatan, dan kosmetik), chicle (ditemukan pada beberapa permen karet), dan kayu manis, bisa memainkan beberapa peranan. Kekurangan vitamin, termasuk B12, asam folat, dan B-kompleks, bisa menyebabkan sindrom mulut terbakar. Kekurangan zat besi juga termasuk di dalamnya.

Keadaan tersebut mudah didiagnosa oleh dokter tetapi sulit untuk diobati. Sering minum air atau mengunyah permen karet bisa membantu mulut tetap lembab. Antidepresan, seperti nortriptyline, atau obat-obatan antianxiety, seperti clonazepam, kadangkala sangat membantu, meskipun obat-obatan ini bisa membuat gejala-gejala memburuk dengan menyebabkan mulut kering. Kadangkala gejala-gejala timbul tanpa pengobatan tetapi bisa kembali kemudian. Plak tidak hanya dapat terbentuk pada permukaan dan di sela-sela gigi, tapi juga dapat terbentuk dan berakumulasi pada permukaan lidah, karena papillae yang ada di permukaan lidah menjebak sisa-sisa makanan. Lapisan yang terbentuk di permukaan lidah yang mengandung sel mati, plak, debris atau sisa makanan, dan bakteri penghasil VSC inilah yang menjadi salah satu sumber utama dari bau mulut tak sedap. Banyak penelitian yang mengungkapkan bahwa menggosok lidah dapat mengurangi jumlah bakteri pada permukaan lidah secara signifikan. Menurut Joseph Tonzetich, hanya dengan menyikat bagian posterior (belakang) dorsum lidah saja, oral sulfida dapat berkurang hingga 70 %. Penelitian ini sejalan dengan hasil dari penelitian lain, di mana menurut Hinode, tongue coating score memiliki korelasi yang signifikan terhadap senyawa sulfur

penyebab bau mulut.

Warna lidah yang sehat adalah merah terang, dengan permukaan yang tidak rata karena keberadaan papillae. Pada permukaan lidah yang kotor biasanya terlihat lapisan berwarna keputihan (tongue coating). Salah satu cara untuk mengecek kebersihan lidah adalah dengan mengerok lidah dengan ujung kuku, tentunya setelah jari dan kuku dicuci bersih. Bila di ujung kuku terdapat kotoran putih seperti plak pada gigi, maka Anda akan tahu bahwa ada sisa makanan yang terjebak di lidah Anda.

Namun jangan mengartikan setiap lapisan putih di permukaan lidah adalah tongue coating yang merupakan suatu kondisi yang disebabkan penumpukan food debris (sisa makanan), sel epitel mati dan koloni bakteri. Tapi kondisi ini bukan suatu penyakit. Lapisan putih di permukaan lidah juga dapat merupakan gejala suatu kelainan atau penyakit. Salah satunya adalah infeksi jamur Candida, yang bila mengenai mulut disebut oral candidiasis, atau oral thrush. Oral candidiasis utamanya disebabkan oleh spesies candida albicans yang sebetulnya adalah flora normal mulut namun mampu menyebabkan infeksi oportunistik pada keadaan tertentu. Bila sistem imun seseorang menurun, contohnya pada orang dengan HIV/AIDS, orang yang menerima radioterapi, penderita Diabetes Mellitus, dll, berpotensi untuk menderita candidiasis oral. Selain itu oral candidiasis juga dapat terjadi pada penderita.

Xerostomia (mulut kering), pemakai gigi tiruan yang kotor, perokok berat, dan juga keadaan slain yang mengubah kondisi mukosa mulut.

 

E. GLOSSITIS

glossitis merupakan suatu kondisi peradangan yang terjadi pada lidah yang ditandai dengan terjadinya deskuamasi papila filiformis sehingga menghasilkan daerah kemerahan yang mengkilat.

Glositis adalah suatu keradangan pada lidah. Glossitis bisa bisa terjadi akut atau kronis. Penyakit ini juga merupakan kondisi murni dari lidah itu sendiri atau merupakan cerminan dari penyakit tubuh yang penampakannya ada pada lidah. Biasanya kondisi ini bisa menyerang pada semua tingkatan usia. Tetapi nampaknya kelainan ini sering menyerang pada laki- laki dibandingkan pada wanita.

Terdapat beberapa penyabab dari glossitis ini, bisa lokal maupun sistemik. Bakteri dan infeksi virus dapat merupakan penyebab lokal dari glossitis. Trauma atau iritasi mekanis dari sesuatu yang terbakar,gigi atau peralatan gigi merupakan penyebab lokal yang lain. Iritasi lokal seperti dari tembakau, alkohol dan makanan yang pedas ataupun makan yang berbumbu dapat juga menciptakan kondisi glossitis ini,Suatu reaksi alergi dari pasta gigi,obat kumur dan bahan bahan lain yang diletakkan di dalam mulut merupakan salah satu penyebab lokal.

Glossitis sistemik merupakan hasil dari kelainan nutrisi, penyakit kulit dan infeksi sistemik.Seseorang dengan kekurangan gizi atau malnutrisi atau kurangnya asupan vitamin B dalam dietnya juga menyebablkana glossitis ini terbentuk.Penyakit kulit seperti oral lichen planus, erythema multiforme, aphthous ulcers, and pemphigus vulgaris juga bisa menyebabkan glossitis.Infeksi seperti syphilis and human immunodeficiency virus (HIV) kemungkinan memberikan tanda bahwa glossitis ini merupakan gejala yang pertama kali akan muncul nantinya.

Kadangkala penyebab dari glossitis ini adalah keturunan. Suatu pemeriksaan yang mendalam merupakan hal yang perlu dilakukan guna untuk mendapatkan penyebab dari glossitis ini secara pasti. Kadangkala bila penyebabnya tidak jelas dan tidak ada kemajuan setelah dilakukan perawatan, maka perlu dilakukan biopsi. Pada beberapa kasus, glositis akan menyembuh pada pasien dengan rawat jalan.

Kadangkala rawat inap diperlukan bila pembengkakan pada lidah ini membesar dan menghalangi jalannya udara yang kita hisap.

F. ETIOLOGI

Glosstitis biasanya dapat disebabkan oleh

  • defisiensi zat besi (Fe)
  • defisiensi vitamin B kompleks, ataupun
  • karena Crohn disease yang ditandai dengan adanya cobble stone.

 

G. TANDA DAN GEJALA GLOSSITIS

Tanda dan gejala dari glossitis in bervariasi oleh karena penyebab yang bervariasi pula dari kelainan ini, tanda dasar kelainan ini adalah bahwa lidah menjadi berubah warnanya dan terasa nyeri. Warna yang dihasilkan bervariasi dari gelap merah sampai dengan merah terang.

Lidah yang terkena mungkin akan terasa nyeri dan menyebabkan sulitnya untuk mengunyah, menelan atau untuk berbicara. Lidah yang mempunyai kelainan ini permukaannya akan terlihat halus.Terdapat beberapa ulserasi atau borok yang terlihat pada lidah ini.

Kondisi ini biasanya memperlihatkan gejala rasa perih, sakit, terbakar, atau panas pada permukaan lidah.

Glossitis dapat disebabkan oleh berbagai hal dan terapi yang diberikan sangat tergantung dari penyebab utamanya.

 

H. PENATALAKSANAAN

Perawatan dari glosotis ini tergantung dari kasusnya. Antibiotics dipergunakan bila kelainan ini melibatkan bakteri. Bila penyebabnya adalah defisiensi besi, maka diperlukan supplement yang memadai yaitu harus diberikan zat besi yang merupakan ciri defisiensi utama dari glossitis ini. Pembengkakan dan rasa tidak nyaman di mulut dilakukan pemberian obat obatan yang diberikan secara oral. Obat kumur yaitu campuran setengah teh baking soda dan dicampur dengan air hangat akan membantu keadaan ini..Bila pembengkakan dirasakan parah, bisa diberikan kortokosteroid. Diet cair nampaknya harus diberikan pada seseorang dengan glossitis ini.

 

  1. I.       PENCEGAHAN

Kebersihan rongga mulut merupakan hal yang harus dilakukan.

Sikat gigi dan penggunaan dental floss atau benang gigi merupakan suatu keharusan, juga jangan lupa untuk membersihkan lidah setelah makan. kemudian kunjungi dokter gigi secara teratur. Jangan gunakan bahan bahan obat atau makanan yang merangsang lidah untuk terjadi iritasi atau agent sensitisasi. Bahan bahan ini termasuk makanan yang panas dan beralkohol. Kemudian juga hentikan merokok dan hindari penggunaan tembakau dalam jenis apapun.  Sebaiknya segera konsultasi ke dokter bila gangguannya bertambah parah. Bila lidah sudah mengkalangi jalan nafas oleha karena proses enlargement, bila hal ini terjadi, mutlak diperlukan perawatan yang lebih intensive.

 BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

Lidah merupakan salah satu organ penting pada tubuh manusia yang memiliki banyak fungsi. Lidah memiliki peran dalam proses pencernaan, mengisap, menelan, persepsi rasa, bicara, respirasi, dan perkembangan rahang.

glossitis merupakan suatu kondisi peradangan yang terjadi pada lidah yang ditandai dengan terjadinya deskuamasi papila filiformis sehingga menghasilkan daerah kemerahan yang mengkilat.

Glosstitis biasanya dapat disebabkan oleh : defisiensi zat besi (Fe) , vitamin B kompleks, ataupun  karena Crohn disease yang ditandai dengan adanya cobble stone.

Perawatan dari glosotis ini tergantung dari kasusnya. Antibiotics dipergunakan bila kelainan ini melibatkan bakteri. Bila penyebabnya adalah defisiensi gizi, maka diperlukan supplement yang memadai yaitu harus diberikan zat besi yang merupakan ciri defisiensi utama dari glossitis ini.

 

DAFTAR PUSTAKA

Tim penyusun. 2008. blog Periodontist drgDondy. GLOSSITIS : keradangan pada lidah. Available at http//www. blog Periodontist drgDondy. GLOSSITIS.com

Ahira anne. 2010. Macam-macam penyakit pada lidah. Available at http//www.AnneAhira.com.

Rifansyah Much. 2009. Indra pengecapan. Malang; Universitas negri Malang press.

Rahmadhan Ardyan Gilang. 2009. Glossitis. Available at http//www. Gigi sehat badan sehat.com


BAB I

LAPORAN KASUS

 

  1. I.                   IDENTITAS

Nama                     : Tn. Z

Alamat                  : Rejosari-Bantur Kepanjen

Umur                     : 28 tahun

Kelamin                 : Laki-laki

Pekerjaan               : Polri

Status                    : Menikah

Tanggal periksa     : Senin, 20 Desember 2010

Rekam medis        : 243027

 

  1. II.                RIWAYAT KASUS
  2. Gigi                                   : pernah membersihkan karang gigi ± 2 tahun yang lalu
  3. Jar.lunak R. mulut&sekitarnya      : belum pernah melakukan perawatan jar. Lunak R.  mulut
  1. Keluhan Utama                     : Nyeri pada gigi sebelah kiri bawah belakang
  2. Riwayat penyakit sekarang  : Pasien datang dengan keluhan gigi terasa nyeri yang terus-menerus sebelah kiri bawah belakang sejak 1 minggu yang lalu. Gusi pasien juga bengkak sejak 5 hari yang lalu, saat ini sudah sedikit reda. Nyeri bertambah bila minum-minuman yang dingin.
  3. Riwayat perawatan               :
  1. Riwayat kesehatan
  • Kelainan darah                              : Pasien mengaku tidak ada kelainan
  • Kelainan endokrin                         : Pasien mengaku tidak ada kelainan
  • Gangguan nutrisi                           : Pasien mengaku tidak ada kelainan
  • Kelainan jantung                           : Pasien mengaku tidak ada kelainan
  • Kelainan kulit/ kelamin                 : Pasien mengaku tidak ada kelainan
  • Gangguan pencernaan                   : Pasien mengaku tidak ada kelainan
  • Gangguan respiratori                     : Pasien mengaku tidak ada kelainan
  • Kelainan imunologi                       : Pasien mengaku tidak ada kelainan
  • Gangguan TMJ                             : Pasien mengaku tidak ada kelainan
  • Tekanan darah                               : Pasien mengaku tidak ada kelainan
  • Diabetes mellitus                           : Pasien mengaku tidak ada kelainan
  • Lain-lain                                        : Pasien mengaku tidak ada kelainan
  1. Obat-obatan yang telah /sedang dijalani :  Amoksisillin 3 x 1 selama 5 hari

Asam mefenamat 3 x 1 selama 5 hari

  1. Keadaan sosial/kebiasaan                 : Menengah

  Suka minum-minuman dingin/es

  1. Riwayat Keluarga :

a. Kelainan darah                    : Pasien mengaku tidak ada kelainan

b. Kelainan endokrin               : Pasien mengaku tidak ada kelainan

c. Diabetes melitus                  : Pasien mengaku tidak ada kelainan

d. Kelainan jantung                 : Pasien mengaku tidak ada kelainan

e. Kelainan syaraf                   : Pasien mengaku tidak ada kelainan

f. Alergi                                   : Pasien mengaku tidak ada kelainan

g. lain-lain                               : -

 

III. PEMERIKSAAN KLINIS

1. EKSTRA ORAL :

  1. Muka                                       : Simetris
  2. Pipi kiri                                    : tidak ada kelainan

Pipi kanan                               : tidak ada kelainan

  1. Bibir atas                                 : tidak ada kelainan

bibir bawah                             : tidak ada kelainan

d. Sudut mulut                              : tidak ada kelainan

  1. Kelenjar submandibularis kiri   : tidak teraba/ tidak ada kelainan

kanan : tidak teraba/ tidak ada kelainan

f. Kelenjar submentalis                 : tidak teraba/ tidak ada kelainan

g. Kelenjar leher                            : tidak teraba/ tidak ada kelainan

h. Kelenjar sublingualis                 : tidak teraba/ tidak ada kelainan

  1. Kelenjar parotis                         : tidak teraba/ tidak ada kelainan

2. INTRA ORAL :

  1. Mukosa labial atas                   : tidak ada kelainan

Mukosa labial bawah              : tidak ada kelainan

  1. Mukosa pipi kiri                      : tidak ada kelainan

Mukosa pipi kanan                  : tidak ada kelainan

  1. Bukal fold atas                        : tidak ada kelainan

Bukal fold bawah                   : tidak ada kelainan

  1. Labial fold atas                       : tidak ada kelainan

Labial fold bawah                   : tidak ada kelainan

  1. Ginggiva rahang atas              : tidak ada kelainan

Ginggiva rahang bawah kiri    : Hiperemis, edema

  1. Lidah                                       : tidak ada kelainan
  2. Dasar mulut                             : tidak ada kelainan
  3. Palatum                                   : tidak ada kelainan
  4. Tonsil                                      : tidak ada kelainan
  5. Pharynx                                   : tidak ada kelainan
  6. Lain – lain                               : Kalkulus pada gigi rahang atas dan bawah

 

 

 

 

 

Keterangan :

Gigi 8 Rahang bawah kiri :

- Kavitas terlihat dalam dan tertutup sisa makanan

- Sondase (+)

- Perkusi (-)

IV. DIAGNOSE SEMENTARA :

  • Pulpitis     8
  • Kalkulus RA dan RB

V. RENCANA PERAWATAN :

  • Pro:  Cabut (ekstraksi)      8
  • Pro : Scalling

1. Pengobatan :

R/ Clindamycin 300 mg kap No.X

S 3 dd kap 1

R/ Asam Mefenamat  500 mg tab No.X

S 3 dd tab 1

2. Pemeriksaan Penunjang :

Lab.Rontgenologi mulut/ Radiologi   : (+)

Lab.Patologi anatomi                          : -

  • Sitologi                                    : -
  • Biopsi                                      : -

Lab.Mikrobiologi                                : -

  • Bakteriologi                            : -
  • Jamur                                       : -

Lab.Patologi Klinik                             : -

3. Rujukan :

Poli Penyakit Dalam                           : -

Poli THT                                             : -

Poli Kulit & Kelamin                          : -

VI. DIAGNOSE AKHIR :

  • Pulpitis     8
  • Kalkulus RA dan RB

VII. DIFFERENTIAL DIAGNOSA

Pulpitis kronis

Periodontitis

LEMBAR PERAWATAN

Tanggal Elemen Diagnosa Therapi Keterangan
20 Desember 2010

 

 

 

 

 

8

 

 

 

 

RA , RB

Pulpitis

 

 

 

 

 

Kalkulus

Pro : ekstraksi

Farmako :

R/ Clindamycin 300 mg tab    No.X

S 3 dd tab 1

R/ As. Mefenamat 500 mg tab No.X

S 3 dd tab 1

Pro : scalling

Pada pasien ini tidak dilakukan perawatan karena posisi gigi molar 3 pasien  yang impaksi, sehingga tidak bisa dilakukan ekstraksi secara biasa, harus menggunakan terapi bedah.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. 1.      PULPITIS
    1. A.    DEFINISI :

Pulpitis adalah suatu radang yang terjadi pada jaringan pulpa gigi dengan gambaran klinik yang akut. Merupakan penyakit lanjut karena didahului oleh terjadinya karies, hyperemia pulpa baru setelah itu menjadi Pulpitis, yaitu ketika radang sudah mengenai kavum pulpa.

Gambar 1. Anatomi gigi dan jaringan periodontal

Klasifikasi pulpitis menurut waktunya :

  1. Pulpitis akut
  2. Pulpitis kronis

Pulpitis reversibel :

Adalah kondisi dimana pulpa mengalami inflamasi dan secara aktif merespon terhadap iritasi. Ini mungkin termasuk lesi karies yang belum mencapai pulpa. Gejalanya meliputi sakit yang sementara atau sensitivitas yang dihasilkan dari rangsangan yang banyak, terutama panas, dingin, manis, air dan sentuhan. Pulpa masih bersifat vital. Ini berarti bahwa sekali iritan tersebut dihilangkan, biasanya dengan menghilangkan kerusakan gigi dengan penambalan, keadaan pulpa akan kembali normal.

Pulpitis ireversibel :

Adalah keadaan dimana pulpa mengalami kerusakan yang ireversibel. Pulpa tidak dapat pulih dari kerusakan. Misalnya, kerusakan gigi yang telah mencapai pulpa sehingga pulpa terpapar oleh bakteri. Pulpa masih vital, namun terpaparnya pulpa oleh bakteri tidak akan membuat pulpa dapat sembuh dan akhirnya akan menghasilkan nekrosis, atau kematian, dari jaringan pulpa.

Gejala yang berhubungan dengan pulpitis ireversibel adalah nyeri tumpul, nyeri karena panas atau dingin (walaupun dingin mungkin sebenarnya memberikan bantuan), nyeri masih tersisa setelah stimulus dihilangkan , rasa sakit spontan, atau referred pain.

Tanda-tanda klinis meliputi berkurangnya respon terhadap pengujian elektronik pulpa dan respon yang menyakitkan terhadap rangsangan termal.

Pulpa dari gigi dengan yang mengalami pulpitis ireversibel tidak boleh dibiarkan untuk sembuh sendiri. Gigi mungkin dapat dirawat secara endodontical dimana pulpa akan dihilangkan dan diganti dengan gutta percha. Alternatif lain adalah dengan ekstraksi gigi. Hal ini mungkin diperlukan jika terdapat jaringan koronal yang tidak cukup untuk pemulihan setelah terapi saluran akar telah selesai.

 

  1. B.     ETIOLOGI:

Penyebab pulpitis yang paling sering ditemukan adalah kerusakan email dan dentin, penyebab kedua adalah cedera. Pulpitis mungkin disebabkan oleh karies gigi yang menembus melalui email dan dentin yang mencapai pulpa, atau mungkin akibat dari trauma, seperti trauma termal dari prosedur perawatan gigi yang berulang.

Peradangan disini dikaitkan dengan infeksi bakteri. Dalam kasus kerusakan gigi yang menembus email & dentin (penetrating decay), ruang pulpa tidak lagi tertutup dari lingkungan rongga mulut.

Ketika pulpa menjadi meradang, mulai terjadi peningkatan tekanan dalam rongga pulpa, memberkan tekanan pada saraf gigi dan jaringan sekitarnya. Tekanan yang dihasiokan dari proses peradangan ini dapat menyebabkan rasa sakit yang ringan sampai hebat, tergantung pada tingkat keparahan peradangan dan respon tubuh. Tidak seperti bagian lain pada tubuh di mana tekanan dapat menghilang melalui jaringan lunak sekitarnya, proses yang terjadi di rongga pulpa sangat berbeda. Rongga pulpa dikelilingi oleh dentin, sebuah jaringan keras yang tidak memungkinkan untuk menghilangkan tekanan, sehingga dapat meningkatkan aliran darah, tanda-tanda peradangan, yang akan menimbulkan rasa sakit.

Pulpitis sering dapat menyebabkan banyak tekanan pada saraf gigi sehingga pasien akan mengalami kesulitan mencari sumber rasa sakit, membingungkan dengan gigi-gigi yang berdekatan, yang disebut disebut dengan referred pain.

Respon Imun:

Dalam pulpa, seperti pada daerah lain dari tubuh, proses peradangan dapat terjadi. Radang pulpa tidak terjadi hanya jika bakteri dalam proses kerusakan telah mencapai pulpa. Produk bakteri dapat mencapai pulpa jauh lebih awal dan memulai respon inflamasi. Peradangan ini dapat terjadi secara akut atau kronik karena, seperti jaringan-jaringan lain dalam tubuh, pulpa akan bereaksi terhadap iritasi dengan mekanisme respon imun innate dan / atau respon imun adaptif.

Imunitas innate di pulpa merupakan respon imun tidak spesifik, tetapi menggunakan reseptor untuk mengenali pola molekul umum untuk mikroba untuk memulai proses fagositosis bakteri. Komponen dari respon imun innate dari dentin / kompleks pulpa terhadap karies mencakup sekurang-kurangnya enam, yaitu sebagai berikut:

  1. Aliran cairan dentin
  2. Odontoblasts
  3. Neuropeptida dan neurogenik inflamasi
  4. Sel-sel imun Innate, termasuk sel-sel dendritik immatur (DCs), sel Natual Killer, dan sel T
  5. Sitokin
  6. Chemokines.

Odontoblasts, (sel-sel yang membentuk dentin) memiliki proses seluler yang memanjang ke tubulus dentin dan merupakan sistem perlindungan pertama untuk menghadapi antigen bakteri karies. Odontoblast ini mengeluarkan interleukin-8 (IL-8) yang rendah dan gen-gen yang berkaitan dengan kemokin dan reseptor kemokin. Ondontblasts ini telah terbukti dapat menarik sel-sel dendritic yang imatur.

Sel Dendritic/ Dendritic Cell (DC) merupakan populasi leukosit yang heterogen. DC dalam jaringan perifer yang sehat (steady state) berada dalam kondisi imatur. Sel-sel ini mampu mendeteksi mikroba serta menangkap antigen dan mampu memprosesnya. Akumulasi cepat DC pulpa telah diamati di bawah persiapan rongga, dan peningkatan jumlah DC akumulasi bawah karies. Tanaman belum DC Oleh karena itu dianggap sebagai bagian dari fase respon imun bawaan pulpa.

Persistent infeksi mengarah pada aktivasi kekebalan adaptif. Sebuah transisi ke respon imun adaptif akan berlangsung di pulp gigi sebagai karies dan bakteri pendekatan pulp. Antigen diakui secara individu dan baris limfosit dikembangkan untuk memproduksi antibodi spesifik yang melekat pada sel-sel yang diakui dan memulai kehancuran mereka. Fagosit membuang sisa-sisa. sel B dan sel T limfosit utama yang terlibat.

Berbagai sitokin telah diamati dalam pulp. Pasien dengan gejala dan pulpitis ireversibel bergejala telah terbukti telah meningkat hampir 23 kali lipat dalam sitokin IL-8 dalam pulp. Sitokin dalam pulp berinteraksi satu sama lain. Dampak tertinggi pada radang pulpa dan penyembuhan tergantung pada tindakan terpadu dari mediator inflamasi.

Selain limfosit, makrofag juga menyediakan pertahanan terhadap patogen intraseluler tertentu. makrofag aktif bisa berfungsi sebagai kelas II antigen-presenting sel, mirip dengan pulpa sel dendritik dan B. Selain itu, makrofag aktif mengeluarkan mediator inflamasi banyak. Makrofag dalam pulp menjadi aktif setelah menerima dua sinyal. Yang pertama adalah stimulus priming dan yang kedua adalah mengaktifkan sinyal. Stimulus priming disekresikan oleh sel T-helper diaktifkan. Stimulus mengaktifkan mungkin termasuk lipopolusaccharides bakteri, dipeptida muramyl, dan mediator kimia lainnya.

Makrofag adalah fagosit profesional dalam respon imun bawaan. makrofag aktif adalah pembunuh efektif yang menghilangkan patogen baik respon imun bawaan dan adaptif, dan juga penting dalam homeostasis jaringan, melalui pembersihan sel pikun, dan di renovasi dan perbaikan jaringan setelah peradangan. Jumlah meningkat makrofag dengan perkembangan karies dan selalu lebih tinggi dari DC pada semua tahap dari invasi karies.

 

  1. C.    GEJALA :

Pulpitis menyebabkan sakit gigi yang tajam luar biasa, terutama bila terkena oleh air dingin, asam, manis, kadang hanya dengan menghisap angina pun sakit. Rasa sakit dapat menyebar ke kepala, telinga dan kadang sampai ke punggung.

- Sondasi (+)

- Perkusi (-)

- Reaksi dingin, manis dan asam (+)

- Pembesaran kelenjar (-)

- Rasa sakit tidak terus menerus, terutama pada malam hari

- Rasa sakit tersebar dan tidak bisa dilokalisasi.

- Rasa sakit berdenyut khas, yaitu rasa sakit yang tajam dan dapat menjalar ke kepala dan telinga kadang ke punggung.

 

  1. D.    DIAGNOSA:

Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan klinis. Dalam hal ini dapat dilakukan beberapa pengujian :

  • Diberikan rangsangan dingin, asam, manis pasien terasa sakit sekali/sakit bertambah menusuk. Rangsangan dingin, asam dan manis (+).
  • Penguji Pulpa Elektrik pada pengujian dengan alat penguji elektrik, pasien merasa sangat nyeri, kadang belum tersentuh pun pasien terasa sangat nyeri.
  • Perkusi Dengan Pangkal Sonde pada pulpitis perkusi (-), tapi pasien merasa nyeri/perkusi (+), disebabkan karena pada dasarnya pasien sudah merasa sakit pada giginya sehingga hanya faktor sugesti yang mendasarinya. Bila perkusi terasa nyeri/perkusi (+), maka peradangan telah menyebar ke jaringan dan tulang sekitarnya.
  • Pada pemeriksaan dengan roentgen maka didapatkan gambaran radiologist berupa gambaran radioluscent yang telah mencapai kavum pulpa. Pemeriksaan radiologist dilakukan untuk memperkuat diagnosa dan menunjukkan apakah peradangan telah menyebar ke jaringan dan tulang sekitarnya.

 

  1. E.     DIFERENTIAL DIAGNOSA :
  • Pulpitis kronis

 

F. RENCANA TERAPI :

- Endodontics (perawatan saraf gigi)

- Ekstraksi gigi penyebab

Endodontics :

Merupakan cabang kedokteran gigi yang berhubungan dengan etiologi, pencegahan, diagnosis, dan terapi terhadap kondisi yang mengenai pulpa gigi, akar gigi, dan jaringan periapikal dalam hal ini amerupakan terapi perawatan saraf gigi. Terapi endodontics dilakukan bila keadaan gigi masih baik, dan kerusakannya belum terlalu luas, sehingga gigi masih bias dipertahankan.

 

  1. 2.      GIGI IMPAKSI
    1. A.    DEFINISI  

Gigi impaksi atau gigi terpendam adalah gigi yang erupsi normalnya terhalang atau terhambat, biasanya oleh gigi didekatnya atau jaringan patologis sehingga gigi tersebut tidak keluar dengan sempurna mencapai oklusi yang normal didalam deretan susunan gigi geligi lain yang sudah erupsi.

Umumnya gigi yang sering mengalami impaksi adalah gigi posterior dan jarang pada gigi anterior. Namun gigi anterior yang mengalami impaksi terkadang masih dapat ditemui.

Pada gigi posterior,yang sering mengalami impaksi adalah sebagai berikut :

1. Gigi molar tiga mandibula

2. Gigi molar tiga maksila

3. Gigi premolar mandibula

4. Gigi premolar maksila

 

Sedangkan gigi anterior yang dapat ditemui mengalami impaksi adalah sebagai berikut:

 

1. Gigi caninus maksila dan mandibula

2. Gigi incisivus maksila dan mandibula

B. Etiologi Gigi Impaksi

Gigi impaksi dapat disebabkan oleh banyak faktor, menurut Berger penyebab gigi

terpendam antara lain :

Faktor lokal yang dapat menyebabkan terjadinya gigi impaksi adalah :

  1. Abnormalnya posisi gigi
  2. Tekanan dari gigi tetangga pada gigi tersebut
  3. Penebalan tulang yang mengelilingi gigi tersebut
  4. Kekurangan tempat untuk gigi tersebut bererupsi
  5. Gigi desidui persistensi(tidak mau tanggal)
  6. Pencabutan prematur pada gigi
  7. Inflamasi kronis penyebab penebalan mukosa disekitar gigi
  8. Penyakit yang menimbulkan nekrosis tulang karena inflamasi atau abses

 

  1. Tanda Atau Keluhan Gigi Impaksi

Ada beberapa orang yang mengalami masalah dengan terjadinya gigi impaksi. Dengan demikian mereka merasa kurang nyaman melakukan hal-hal yang berhubungan dengan rongga mulut. Tanda-tanda umum dan gejala terjadinya gigi impaksi adalah :

1. Inflamasi,yaitu pembengkakan disekitar rahang dan warna kemerahan pada gusi  disekitar gigi yang diduga impaksi

2. Resorpsi gigi tetangga,karena letak benih gigi yang abnormal sehingga meresorpsi gigi tetangga

3. Kista(folikuler)

4. Rasa sakit atau perih disekitar gusi atau rahang

5. Fraktur rahang(patah tulang rahang)

6. Dan tanda-tanda lain

 

  1. Klasifikasi Umum Gigi Impaksi

Untuk kebutuhan dan keberhasilan dalam perawatan gigi yang impaksi maka diciptkanlah berbagai jenis klasifikasi. Posisi impaksi gigi molar bisa macam-macam tergantung letak dan posisi gigi molar tiga terhadap rahang dan geraham kedua (molar kedua), atau kedalamannya menancap di dalam tulang rahang.Beberapa diantaranya sudah umum dijumpai yaitu klasifikasi menurut Pell dan Gregory :

Berdasarkan Hubungan antara ramus mandibula dengan molar kedua dengan cara membandingkan lebar mesio-distal molar ketiga dengan jarak antara bagian distal molar kedua ke ramus mandibula.

Klas I              : Ukuran mesio-distal molar ketiga lebih kecil dibandingkan jarak antara  distal gigi molar kedua dengan ramus mandibula

Klas II            : Ukuran mesio-distal molar ketiga lebih besar dibandingkan jarak antara  distal gigi molar kedua dengan ramus mandibula

Klas III           : Seluruh atau sebagian besar molar ketiga berada dalam ramus mandibula

 

 

 

  1. Pemeriksaan Klinis Gigi Impaksi

Ada banyak penderita gigi terpendam atau gigi impaksi.Terkadang diketahui adanya gigi impaksi pada seseorang diawali karena adanya keluhan, namun tidak semua gigi impaksi menimbulkan keluhan dan kadang-kadang penderita juga tidak mengetahui adanya kelainan pada gigi geliginya.Untuk mengetahui ada atau tidaknya gigi impaksi dapat diketahui dengan pemeriksaan klinis,meliputi :

Keluhan yang ditemukan dapat berupa :

  1. Perikoronitis

1. Rasa sakit di region tersebut

2. Pembengkakan

3. Pembesaran limfe-node sub-mandibular

2.   Karies pada gigi tersebut

Dengan gejala : pulpitis, abses alveolar yang akut. Hal yang sama juga dapat terjadi bila suatu gigi mendesak gigi tetangganya,hal ini dapat menyebabkan terjadinya periodontitis.

3. Parastesi dan neuralgia pada bibir bawah. Terjadinya parastesi atau neuralgia pada bibir bawah mungkin disebabkan karena tekanan pada n.mandibularis.Tekanan pada n.mandibularis dan dapat juga menyebabkan rasa sakit pada gigi premolar dan kaninus.

 

E. Pemeriksaan Ekstra Oral

Pada pemeriksaan ekstra oral yang menjadi perhatian adalah :

1. Adanya pembengkakan

2. Adanya pembesaran limfenode (KGB)

3. Adanya parastesi

 

F. Pemeriksaan Intra Oral

Pada pemeriksaan intra oral yang menjadi perhatian adalah :

1. Keadaan gigi,erupsi atau tidak

2. Adanya karies

3. Warna mukosa bukal,labial dan gingival

4.Adanya abses gingival

5. Posisi gigi tetangga,hubungan dengan gigi tetangga

 

G. Pemeriksaan Ro-Foto

1. Dental foto (intra oral)

2. Oblique

3. Occlusal foto/bite wing

 

F. Gambaran Umum Perawatan Gigi Impaksi

Secara umum sebaiknya gigi impaksi dicabut baik itu untuk gigi molar tiga,caninus,premolar,incisivus. Namun harus diingat sejauh tidak menyebabkan terjadinya gangguan pada kesehatan mulut dan fungsi pengunyahan disekitar rahang pasien maka gigi impaksi tidak perlu dicabut.Pencabutan pada gigi impaksi harus memperhatikan indikasi dan kontraindikasi yang ada.Indikasi dan kontra indikasi pencabut,meliputi :

Indikasi

1.Pencabutan Preventif/Propilaktik

Pencabutan preventif ini sangatlah penting yaitu untuk mencegah terjadinya patologi yang berasal dari folikel atau infeksi yang timbul akibat erupsi yang lambat dan sering tidak sempurna, serta pada kondisi tertentu dapat mencegah terjadinya kesulitan pencabutan nanti jika gigi itu dibiarkan lebih lama dalam lengkung rahang, misalnya karena celah ligamentum mengecil atau tidak ada adalah indikasi pencabutan bagi gigi yang impaksi.

2. Pecabutan patologis dan mencegah perluasan kerusakan oleh gigi impaksi

Pencabutan karena pencegahan terjadinya patologi dan mencegah perluasan kerusakan dalam lengkung rahang karena adanya gigi yang impaksi juga menjadi indikasi pencabutan pada gigi yang impaksi.

Ada banyak referensi tentang indikasi pencabut gigi impaksi, namun secara umum  pencabutan selalu diindikasikan oleh dua hal diatas,adapun indikasi lain pencabutan adalah

1. Usia muda pada waktu pertumbuhan tulang telah berhenti (16-18 tahun), karena akan mengurangi komplikasi karena akar belum terbentuk sempurna

2. Adanya penyimpangan panjang lengkung rahang dan membantu mempertahankan  stabilisasi hasil perawatan ortodonsi

3. Kepentingan prostetik dan restoratif

 

Kontraindikasi

Pencabutan gigi impaksi juga tergantung pada kontraindikasi yang muncul, ada pasien- pasien tertentu yang tidak dapat dilakukan pencabutan dengan berbagai pertimbangan,adapun kontraindikasi pencabutan gigi impaksi adalah:

1.Pasien dengan usia sangat ekstrim,telalu muda atau lansia

2.Incompromised medical status

3. Kerusakan yang luas dan berdekatan dengan struktur yang lain

4. Pasien tidak menghendaki giginya dicabut

5. Apabila tulang yang menutupi gigi yang impaksi sangat termineralisasi dan padat

 

Frekuensi Munculnya Gigi Impaksi

Gigi yang terpendam merupakan sumber potensial yang terus menerus dapat menimbulkan kerusakan atau keluhan sejak gigi tersebut mulai erupsi. Menurut penelitian insidens terjadinya gigi impaksi dalam urutan sebagai berikut :

1. Molar tiga mandibula

2. Molar tiga maksila

3. Kaninus maksila

4. Kaninus mandibula

5. Premolar mandibula

6. Premolar maksila

7. Insisivus pertama maksila

8. Insisivus kedua maksila

 

Gigi Molar Tiga(M3)

Gigi molar tiga (gigi bungsu) adalah gigi yang terakhir tumbuh dan terletak di bagian paling belakang dari rahang. Biasanya gigi ini tumbuh pada akhir masa remaja atau pada awal usia 20-an. Pada usia inilah yang dianggap sebagai “age of wisdom” (usia di mana seseorang mulai bijaksana), sehingga gigi bungsu dalam bahasa Inggris disebut “wisdom teeth”. Normalnya tiap orang memiliki empat gigi molar tiga, masing-masing satu pada tiap sisi rahang. Tapi ada juga orang-orang yang tidak memiliki gigi bungsu ini.

Pada kebanyakan kasus, rahang seringkali tidak cukup besar untuk menampung gigi-gigi ini sehingga tidak dapat tumbuh sepenuhnya atau tetap berada di bawah gusi atau di dalam tulang. Keadaan inilah yang disebut impaksi. Impaksi adalah suatu keadaan di mana gigi mengalami hambatan dalam arah erupsinya / tumbuhnya, sehingga tidak dapat mencapai posisi yang seharusnya.

 

Gambar. Impaksi gigi molar

Impaksi gigi molar tiga dapat timbul dalam berbagai posisi, bisa benar-benar terperangkap dan berada dalam gusi atau tulang, sehingga tidak nampak bila dilihat dalam mulut. Atau bisa juga sudah menembus gusi tapi hanya tumbuh separuh jalan. Arahnya bisa horizontal, miring dengan mahkota ke arah gigi molar dua atau sebaliknya, atau malah menghadap ke arah dalam atau ke luar rahang.

Penyebab

Impaksi disebabkan kurangnya tempat untuk erupsi bagi gigi tersebut dalam lengkung rahang, sehingga gigi molar tiga tidak memiliki tempat untuk tumbuh dengan normal.

 

Perawatan

I. Indikasi dan kontra indikasi perawatan

Indikasi dan kontra indikasi sama dengan indikasi dan kontraindikasi  perawatan umum untuk gigi impaksi.

 

II. Rencana perawatan

Rencana perawatan yang dilakukan pada impaksi gigi molar tiga adalah pengangkatan gigi molar tiga tersebut. Gigi molar yang impaksi atau tumbuh miring tidak berfungsi dengan baik dalam pengunyahan dan menyebabkan berbagai macam gangguan. Itulah mengapa gigi tersebut lebih baik diangkat daripada dipertahankan.

Semakin cepat mengangkat gigi molar tiga impaksi akan semakin baik daripada harus menunggu sampai timbulnya komplikasi dan rasa sakit yang lebih lanjut. Bila Anda menunggu sampai timbul rasa sakit dan keluhan lainnya, resiko terjadinya komplikasi pada saat pengangkatan tentunya akan lebih tinggi, bahkan proses penyembuhan mungkin akan lebih lama. Semakin muda usia pasien, proses pengangkatan akan jauh lebih mudah dan proses penyembuhannya akan jauh lebih cepat.

 

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

Dari anamnesa dan pemeriksaan fisik didapatkan bahwa pasien didiagnosa pulpitis pada elemen gigi   8   serta kalkulus pada rahang atas dan rahang bawah dengan differential diagnose adalah pulpitis kronis dan periodontitis.

Pada pasien tersebut tidak dilakukan perawatan oleh karena posisi gigi molar ketiga pasien yang impaksi, sehingga tidak dapat dilakukan ekstraksi secara biasa, harus dengan tindakan bedah (odontektomi)

 

 DAFTAR PUSTAKA

 

Chaker, F.M. : Dent. Clin. North Am., 18:393, 1974 dalam Grossman, L.I., Oliet, S. & Del Rio, C.E. 1988. Endodontic practice. 11 th ed. Philadelphia : Lea & Febiger.

 

Oliet, S. & Pollock,S. : Bull. Phila. Dent. Soc., 34:12, 1968 dalam Grossman, L.I., Oliet, S. & Del Rio, C.E. 1988. Endodontic Practice. 11 th ed. Philadelphia :Lea & Febiger.

Mazur, B., & Massler, M. : Oral Surg., 17 : 592. 1964 dalam Grossman, L.I., Oliet, S. & Del Rio, C.E. 1988. Endodontic Practice. 11 th ed. Philadelphia : Lea & Febiger.

 

 


BAB I

PENDAHULUAN

Rongga mulut terdiri dari bibir, gigi, gusi, selaput lendir mulut, langit-langit mulut, lidah dan sistem limfoid oral. Rongga mulut memainkan peran penting dalam banyak fungsi tubuh utama, termasuk gizi (pengunyahan dan menelan), respirasi dan komunikasi. Berbagai spesialis mungkin diminta untuk mendiagnosa dan mengobati penyakit rongga mulut, termasuk dokter umum, praktisi perawat, dokter gigi, dokter bedah oral, otolaryngologists, rheumatologists, dokter kulit dan lain-lain.

Alat diagnostik yang paling penting untuk pemeriksaan mulut adalah mata pemeriksa itu, dibantu oleh sebuah sumber penerangan, sebuah depressor lidah, dan penggunaan palpasi dengan jari-jari pemeriksa yang tertutup sarung tangan. Sama seperti memeriksa setiap area tubuh, penting untuk memeriksa langsung dan sistematis semua wilayah rongga mulut. Gigi palsu pasien harus dikeluarkan sehingga daerah di bawah gigi palsu bisa diperiksa tetapi juga supaya gigi palsu itu sendiri dapat diperiksa. Sedangkan penyakit sebagian besar rongga mulut dapat didiagnosis dengan inspeksi visual, beberapa gangguan dapat membingungkan dan diagnosa mereka mungkin sulit dipahami. Banyak proses penyakit, jinak dan ganas, lokal dan sistemik, dapat hadir sebagai lesi ulkus di rongga mulut.

Daftar penyakit yang mungkin hadir sebagai lesi ulkus di rongga mulut cukup luas. Fokusnya di sini akan di penyebab paling umum dari lesi ini. Termasuk adalah manifestasi akut dan kronis proses, jinak dan ganas penyakit, umum dan sistemik dari lesi ulkus di rongga mulut.

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. 1.      DEFINISI

Ulkus oral juga disebut aphthous ulcer yang muncul sendiri atau dalam kelompok di dalam mulut bibir atau pipi. Mereka bisa ditemukan di bawah atau di pinggir lidah. Ulkus oral cepat terbentuk dan dapat sangat nyeri. Ulkus biasanya sembuh dengan sendirinya dalam waktu satu sampai dua minggu, tetapi mungkin terulang beberapa kali dalam setahun. Meskipun nyeri, terutama ketika makan atau berbicara, ulkus oral  tidak menular. Namun, mereka mungkin merupakan gejala gangguan yang mendasari seperti kanker mulut, kekurangan gizi, atau penyakit menular seksual.

 

  1. 2.      ETIOLOGI

2.1  Penyebab Akut :

Lesi yang diklasifikasikan sebagai lesi akut akan tampak sebagai lesi ulseratif kecil dengan onset yang baru dan lesi tampak dangkal dengan tepi tidak naik sampai lebih dari permukaan mukosa. Walaupun lesi ini memiliki durasi yang singkat, lesi ini dapat kambuh kembali.

Berikut adalah penyebab yg dikategorikan lesi akut :

  1. Trauma :

Trauma adalah penyebab paling umum dari ulserasi dari membran mukosa mulut. Ulserasi traumatik dapat diakibatkan oleh cedera fisik, kimia atau termal. Diagnosis ulserasi traumatik biasanya ditentukan oleh anamnesa riwayat saja. Ulserasi traumatik akut ditandai dengan rusaknya mukosa dengan dasar yang dangkal dan tepinya tidak tinggi. Lesi ini paling tidak sedikit menyakitkan.

Trauma fisik yang umum termasuk menggigit pipi atau lidah, iritasi gigi tiruan yang tidak pas, trauma dari benda asing atau bahkan trauma karena menggosok gigi secara tidak benar. Kontak langsung mukosa dengan sejumlah obat, paling sering aspirin, dapat menyebabkan ulserasi. Luka bakar kimia juga dapat terlihat pada pasien yang telah menggunakan nitrat fenol atau perak untuk mengobati ulkus aphthous berulang. Makanan atau minuman panas juga dapat menyebabkan ulserasi oral.

 

(Chemical burn)                                              (Thermal burn)

Prinsip penatalaksanaan trauma luka pada mukosa mulut adalah menghilangkan iritan (penyebab trauma).  Cedera kimia dan termal sering lebih menyakitkan, dan membutuhkan analgesik selama periode penyembuhan.

Terapi suportif yang diberikan adalah memperhatikan kebersihan mulut dan penggunaan larutan kumur pembersih, anestesi bilasan seperti lidokain 2%, diphenhydramine, dan Kaopectate dapat digunakan setelah pertama membilas mulut dan juga dapat diberikan kortikosteroid topikal.

  1. Recurrent Aphthous Stomatitis (RAS):

Recurrent Aphthous Stomatitis (RAS) merupakan penyakit mukosa oral yang paling umum di Amerika Utara. Lesi ini umumnya disebut “mouth ulcers” (ulkus mulut) atau “canker sore” (sariawan). Pasien dengan RAS akan mengeluh kekambuhan dari satu atau lebih ulkus oral yang menyakitkan pada interval mulai dari hitungan hari ke bulan. RAS biasanya dimulai di masa kanak-kanak atau remaja dan dapat berkurang baik frekuensi dan tingkat keparahan dengan bertambahnya usia.

Ulkus yang disebabkan oleh RAS terbatas pada mukosa lembut mulut, atau mukosa nonkeratinized yang tidak menempel pada tulang. Daerah ini meliputi mukosa buccal dan labial, lateral dan ventral lidah, dasar mulut, palatum molle, dan mukosa orofaringeal.

Daerah yang tidak terpengaruh oleh RAS adalah palatum durum dan gingiva yang menempel pada tulang . Lesi RAS tidak terbatas pada rongga mulut, lesi ini juga mungkin ditemukan di tempat lain pada saluran pencernaan, tetapi lesi muncul di luar rongga mulut sering dikaitkan dengan gangguan sistemik.

RAS dibagi menjadi tiga kategori berdasarkan ukuran ulkus dan tingkat keparahan penyakit  :

  1. Aphthae Minor : kurang dari 1 cm diameter dan sembuh sepenuhnya dalam 7 sampai 10 hari. Lesi ini dangkal dan bentuknya bulat/oval dengan warna abu-abu atau kuning. Sangat menyakitkan sekitar 4 hari, kemudian sembuh sepenuhnya tanpa bekas luka setelah beberapa hari.

 

  1. Aphthae Mayor : jarang terjadi, ulkus tidak teratur dengan ukuran 1 sampai 3 cm. Lesi ini bertepi tinggi dan membutuhkan waktu 4 sampai 6 minggu untuk sembuh. Aphthae Mayor dapat meninggalkan jaringan parut yang luas . Sifat yang tidak teratur dan kronis dari lesi ini sering memerlukan biopsi untuk menyingkirkan karsinoma sel skuamosa.

 

  1. Aphthae Herpetiform : juga jarang, dan terdiri dari satu sampai dengan 150 lesi sangat kecil (1-3mm) ulkus sembuh sepenuhnya dalam waktu 7 sampai 10 hari. Kategori RAS sayangnya bernama karena bisul, seperti semua borok RAS, sama sekali tidak berhubungan dengan virus herpes.

 

Etiologi RAS masih sekedar teori, belum bisa di buktikan. Kemungkinan penyebabnya adalah Virus (adenovirus, herpes, and varicella-zoster), bakteri (golongan streptococcus), Hormon (estrogen and progesterone), defisiensi vitamin, zinc, dan besi.

Penatalaksanaan RAS sendiri tidak ada penanganan kuratif, karena  penyakit ini bersifat self limiting. Tujuan penatalaksanaan adalah untuk mengurangi nyeri dan mempertahankan fungsi selama serangan, mengurangi tingkat keparahan, frekwensi dan kekambuhan.

  1.  Behcet’s Syndrome:

Penyakit Behcet adalah gangguan multisistem yang cenderung mempengaruhi orang-orang Mediterania, Timur Tengah, atau layak Jepang.

Trias klasik :

  1. Aphthous ulcer
  2. Ulkus genital
  3. Uveitis atau konjungtivitis.

Manifestasi sistemik lainnya adalah reumathoid artritis, gangguan Neurologi, pembuluh darah, dan keterlibatan gastrointestinal, serta malaise dan demam dengan erupsi ulkus, lesi truncal papulopustular.

Diagnosis penyakit Behcet’s dibuat berdasarkan temuan klinikopatologi, yang mungkin secara klinis membingung dengan sindrom Stevens-Johnson dan penyakit Reiter. Manifestasi oral penyakit Behcet mungkin diperlakukan dengan cara yang sama seperti yang tidak berhubungan dengan penyakit tersebut.

  1. Herpesvirus Infection:

Terdapat 2 strain :

1. HSV-1 : daerah oropharynx

2. HSV-2 : daerah genital

Infeksi primer biasanya terjadi pada pasien muda dan sering asimtomatik tetapi dapat dikaitkan dengan gejala sistemik demam, menggigil, dan malaise.

Vesikula akan muncul pertama dan akan berkembang menjadi ulkus dan krusta. Lesi dari stomatitis herpes primer dapat terjadi di mana saja di dalam mulut. Herpes sekunder atau rekuren tidak terkait dengan penyakit sistemik dan ditandai dengan vesikel kecil yang terjadi hanya pada mukosa keras  (palatum durum dan ginggiva yg menempel pada tulang). Tanda-tanda prodromal : seperti terbakar, gatal, atau kesemutan, biasanya akan terjadi sekitar 1 hari sebelum vesikel berkembang, dan vesikula dapat kambuh di tempat yang sama.

 

Diagnosis umumnya dibuat berdasarkan riwayat dan pemeriksaan fisik saja, tetapi dapat dikonfirmasikan jika diinginkan dengan biopsi atau smear Tzanck. Pada kebanyakan pasien herpes rekuren adalah jinak dan self limited.

  1. Herpangina:

Herpangina disebabkan oleh virus Coxsackie A dan biasanya muncul pada anak2 kurang dari 10 tahun. Gejalanya dapat berupa sakit kepala dan nyeri abdomen dalam 48 jam dan terjadi perkembangan  lesi papulovesicular pada tonsil dan uvula. Ulkus oral karena penyakit ini hanya membutuhkan terapi suportif.

2.2  Penyebab Kronis:

Manifestasi klinis sangat berbeda dengan penyebab akut. Gambaran klinisnya berupa lesi berbatas tegas dengan tepi lebih tinggi dari permukaan mukosa dan memiliki dasar yang keras dan kasar. Dapat juga timbul sebagai  lesi granulomatous yang difus. Karakteristik lainnya adalah tidak mengalami resolusi dalam 2 sampai 3 minggu, sedikit nyeri atau bahkan tidak terasa nyeri.

Berikut adalah penyebab kronis ulkus oral :

  1. a.      Trauma :

Ulkus kronik karena trauma berkembang jika terdapat rangsangan traumatik  yang terus menerus dalam waktu yang lama. Menghilangkan rangsangan traumatik terkadang cukup untuk mengawali proses penyembuhan, tapi terapi spesifik seperti steroid topikal mungkin dibutuhkan.

  1. b.      Infeksi :

Infeksi virus ini cukup jarang, namun dapat terjadi pada pasien AIDS dengan herpes rekuren. Infeksi bakterial nonspesifik lebih sering menyebabkan ulkus oral. Contoh infeksi bakterial dan fungi spesifik adalah gumma pada syphilis tertier, tuberculous ulcer, actinomycosis , histoplasmosis ,blastomycosis .

Kandidiasis adalah penyebab paling umum yang berkaitian dengan membran mukosa mulut. Oral candidiasis  biasanya tampak dengan gambaran plak putih yang terdapat di seluruh bagian mulut, dapat di kerok dengan mudah, tetapi meninggalkan bekas kemerahan dan perdarahan pada permukaan mukosa. Pada beberapa kasus, tampak mukosa eritema yang terang dengan plak-plak putih yang tersebar.

Penanganan kandidiasis oral dapat diberikan suspensi oral nystatin. Sebelum diberikan terapi topikal, membran mokusa mulut harus didebridement dengan pembersih mulut yg teroksidasi (half-strength peroxide). Jika terapi topikal gagal, terapi sistemik dengan menggunakan ketokonazole dapat diterapkan. Dengan infeksi sistemik yang parah, dapat diberikan amfotericin intravena.

  1. c.       Neoplasma :

Squamous cell carcinoma (SCC) adalah penyebab keganasan yang paling umum pada kavitas oral. Lesi ini biasanya diawali dengan lesi campuran berwarna putih dan merah pada lidah, dasar mulut, atau palatum molle. Lesi selanjutnya biasanya akan melibatkan ulkus ireguler dengan batas yang  luas dan saling tumpah tindih. Lesi ini tidak dapt sembuh sendiri atapun dengan pemberian obat immunosuppressan.

  1. d.       Necrotizing sialometaplasia:

Necrotizing  sialometaplasia adalah sebuah kondisi inflamasi yang dipercaya disebabkan oleh karena adanya transient iskemik pada jaringan kelenjar saliva. Iskemik ini dapat  terjadi karena  proses pembedahan atau terapi radiasi atau dari iritasi kronis dari gigi paslu yang pemasangannya tidak baik.

Lesi ini biasanya tampak sebagai ulkus yang dalam pada palatum durum dan biasanya muncul pada pria berkulit putih diatas 50 tahun. Secara Histologis, digambarkan dengan nekrosis lobular pada jaringan kelenjar saliva, adanya sel-sel inflamasi kronik, metaplasia squamosa dari ductus atau acini. Lesi ini termasuk jinak dan secara umum dapat resolusi tanpa ada terapi spesifik  dalam waktu 6 – 10 minggu.

2.3 Penyebab Generelized/sistemik :

a. Kontak Stomatitis:

Ulserasi dari mukosa oral dapat disebabkan oleh sensitisasi obat atau bahan lainnya. Hal ini disebabkan paparan sebelumnya daerah ini terhadap obat penyebab atau materi lain atau salah satu yang secara kimia sangat mirip. Kontak selanjutnya menstimulasi sistem kekebalan tubuh untuk memproduksi antibodi terhadap agen sensitif akan menyebabkan reaksi jaringan lokal. Karena reaksi ini terlokalisir pada mukosa, bukan dalam sirkulasi, tidak ada reaksi anafilaksis yang parah.

Beberapa alergen yang bertanggung jawab untuk reaksi jenis ini termasuk bahan prostetik gigi, seperti resin akrilik yang digunakan untuk membuat gigi palsu, sediaan oral dan kosmetika yang digunakan oleh pasien seperti serbuk gigi tiruan dan krim, pencuci mulut, dan lipstik, obat topikal yang digunakan oleh pasien seperti lozenges antibiotik; anestesi topikal digunakan oleh dokter gigi seperti prokain, dan hal-hal lain seperti permen karet, permen, dan sebagainya.

Reaksi dapat bervariasi dari mulai edema ringan sampai lesi erosif atau vesiculobullous. Pengobatan meliputi menghilangkan agen penyebab. Antihistamin biasanya dapat mempercepat resolusi lesi.

b. Radiation Mucositis:

Radiation mucositis adalah reaksi awal dan akut yang biasanya dimulai pada minggu kedua radiasi. Biasanya muncul sebagai eritema diikuti oleh spotty mucositis,  Lesi spotty mucositis akan bersatu untuk membentuk wilayah ulserasi ditutupi oleh pseudomembran kuning-putih dengan batas erythematous.

Bibir sering terlibat, dengan pseudomembran keras dan pengerasan kulit  dalam area ulserasi. Nyeri dan sensasi terbakar dapat hadir bahkan pada saat istirahat dan diperburuk oleh makanan pedas.

c. Drug induced ulceration :

Drug induced ulceration adalah efek samping yang umum dari banyak obat antineoplastik dan dapat hadir sebagai mucositis yang sangat menyakitkan yang melibatkan membran mukosa oral baik secara lokal atau umum. Selain itu, supresi sistem imun tubuh membuat pasien tidak dapat melawan infeksi oportunistik sekunder yang mungkin berkembang di daerah-daerah di mana mukosa telah menjadi ulserasi.

 

Manifestasi oral kemoterapi terjadi segera setelah awal terapi, puncaknya dalam waktu seminggu setelah penghentian kemoterapi, dan perlahan-lahan dapat resolusi kecuali jika diikuti oleh infeksi lain, perdarahan, atau terapi ulangan. Lesi ini diperlakukan secara paliatif dengan pembersihan bilasan mulut, anestesi topikal, agen antimikroba, atau dengan penggunaan analgesik.

2.3  Penyebab yang berasal dari Dermatologic Disorders:

  1. a.   Erythema Multiforme:

Bersifat adalah progresif cepat, erupsi vesiculobulosa. Etiologinya tidak diketahui, namun paling sering mempengaruhi orang dewasa muda. Reaksi alergi terhadap obat-obatan, makanan, infeksi, atau alkohol diduga mengakibatkan timbunan kompleks antigen-antibodi di subdermis.

Lesi karakteristik adalah “Ring like target Lession” pada kulit dan cukup jarang pada mukosa oral. Ulserasi Difuse dan pengerasan kulit (krusta) dari lidah, bibir, dan mukosa bukal adalah manifestasi oral lebih umum. Biasanya bersifat self limited dan sembuh tanpa jaringan parut dalam beberapa minggu. Contoh bentuk sistemik yang parah adalah Stevens-Johnson syndrome.

  1. b.      Lichen Planus:

Penyakit kronis pada kulit dan mukosa yang dimana terdapat destruksi pada lapisan basal sel yang disebabkan oleh limfosit yang teraktifasi. Karakteristik Lesi ini adalah  violaceus, papula yang gatal pada permukaan flexor ekstremitas.

Lesi oral pada penyakit ini biasanya pada mukosa buccal berbentuk retikuler, plak, dan atropik (erosi). Bentukan Reticular lichen planus (Wickman’s striae).

  1. c.       Benign Mucus Membrane Pemphigoid (BMMP) and Bullous Pemphigoid :

Lesi ini memiliki karakteristik : Bula Subepitelial yang tegang pada kulit dan membran mukosa. Dan dari pemeriksaan fisik didapatkan Nikolsky’s sign (+).

  1. d.      Pemphigus Vulgaris:

Lesi oral pada penyakit ini relative lebih parah dari pada BMMP, dengan karakteristik bula intraepitelial dan akantolisis. Tempat predileksi paling sering adalah mukosa buccal, palatum dan ginggiva.

BAB III

KESIMPULAN

 

Ulkus oral merupakan salah satu manifestasi klinis dari berbagai penyakit. Tidak hanya disebabkan oleh kelainan-kelainan didalam rongga mulut sendiri, namun dapat juga disebabkan dari kelainan-kelainan sistemik. Karena itu, dirasa cukup penting untuk mengatahui penyakit-penyakit apa saja yang dapat memberikan manifestasi pada rongga mulut terutama dalam hal ini adalah manifestasi berupa ulkus oral.

Kelainan-kelainan yang dapat memberikan manifestasi ulkus oral meliputi kelaian akut, yaitu trauma, recurrent aphtous stomatitis, bechet’s syndrome, infeksi herpes virus dan heparngina. Sedangkan penyebab kronis yang menimbulkan manifestasi ulkus oral adalah trauma, infeksi bakeri, virus maupun fungi, neoplasma, Necrotizing sialometaplasia. Penyebab generalized/sistemik yang dapat menimbulkan manifestasi ulkus oral adalah Kontak Stomatitis. Radiation Mucositis dan Cancer Chemotherapy. Dan penyebab yang berasal dari kelainan dermatologis adalah Erythema Multiforme,  Lichen Planus, Benign Mucus Membrane Pemphigoid (BMMP) and Bullous Pemphigoid, dan Pemphigus Vulgaris

 

Daftar Pustaka

 

Cawson, RA, ed. Oral Pathology and Diagnosis.Philadelphia,PA: W.B. Saunders 1992.

 

Benjamin, B, ed. A Color Atlas of Otorhinolaryngology.Philadelphia,PA: J.B. Lippencott 1995.

 

Levin, LS, Lesions of the Oral Mucous Membranes. Otolaryngologic Clinics ofNorth America. Feb 1986, Vol 19 No1 87-102.

 

Murray, N, Ulcerative Lesions of the Oral Cavity. AmericanAcademyofOtolaryngology-Headand Neck Surgery Foundation, Inc. 2000.

 

Yuichi, O, Clinical Study of Benign Lesions in the Oral Cavity. Acta Otolaryngologica 2002; Suppl 574: 79-84.

 

McDonald JS, Oral Ulcerative Diseases. In: Otolaryngology. MM Paparella, ed. WB Saunders,Philadelphia,PA1991.

 

McCaffrey, JC, The Oral Cavity. In: Otolaryngology-The Essentials. AM Seiden, ed.Thieme,New York, NY 2002.

 

Schreiner, C, Stomatitis. In: UTMB Grand Rounds. FB Quinn, ed. November 29, 1995.

 

 

 

 

 


BAB I

PENDAHULUAN

 

Gangren Pulpa Adalah keadaan gigi dimana jarigan pulpa sudah mati sebagai sistem pertahanan pulpa sudah tidak dapat menahan rangsangan sehingga jumlah sel pulpa yang rusak menjadi semakin banyak dan menempati sebagian besar ruang pulpa. Sel-sel pulpa yang rusak tersebut akan mati dan menjadi antigen sel-sel sebagian besar pulpa yang masih hidup. Proses terjadinya gangrene pulpa diawali oleh proses karies. Karies dentis adalah suatu penghancuran struktur gigi (email, dentin dan cementum) oleh aktivitas sel jasad renik (mikro-organisme) dalam dental plak. Jadi proses karies hanya dapat terbentuk apabila terdapat 4 faktor yang saling tumpang tindih. Adapun faktor-faktor tersebut adalah bakteri, karbohidrat makanan, kerentanan permukaan gigi serta waktu. Perjalanan gangrene pulpa dimulai dengan adanya karies yang mengenai email (karies superfisialis), dimana terdapat lubang dangkal, tidak lebih dari 1mm. selanjutnya proses berlanjut menjadi karies pada dentin (karies media) yang disertai dengan rasa nyeri yang spontan pada saat pulpa terangsang oleh suhu dingin atau makanan yang manis dan segera hilang jika rangsangan dihilangkan. Karies dentin kemudian berlanjut menjadi karies pada pulpa yang didiagnosa sebagai pulpitis. Pada pulpitis terdapat lubang lebih dari 1mm. pada pulpitis terjadi peradangan kamar pulpa yang berisi saraf, pembuluh darah, dan pempuluh limfe, sehingga timbul rasa nyeri yang hebat, jika proses karies berlanjut dan mencapai bagian yang lebih dalam (karies profunda). Maka akan menyebabkan terjadinya gangrene pulpa yang ditandai dengan perubahan warna gigi terlihat berwarna kecoklatan atau keabu-abuan, dan pada lubang perforasi tersebut tercium bau busuk akibat dari proses pembusukan dari toksin kuman.

Berikut ini akan dipaparkan sebuah laporan kasus mengenai gangren pulpa  yang dapat disebabkan oleh infeksi bakteri pada karies gigi, yang dirawat di RSUD Kanjuruhan.

 BAB II

STATUS PASIEN

 

2.1  IDENTITAS PASIEN

Nama                 : Ny. Mayeroh

Jenis Kelamin    : Perempuan

Alamat              : Karang suko – Pagelaran

Umur                 : 38 tahun

Pekerjaan           : Ibu rumah tangga

Status                : Menikah

Suku Bangsa     : Jawa

Tanggal Periksa : 21 Desember 2010

Konsul dari       :      –          Menderita :  -

 

2.2  ANAMNESIS

  1. Keluhan Utama : Gigi berlubang sebelah kanan bawah, terasa ngilu saat dibuat makan lubang sudah lama sekitar 7 bulan pasien menginginkan cabut gigi.
  2. Riwayat Penyakit Sekarang : Linu saat dibuat makan (+), bengkak (-), Panas (-)
  3. Riwayat Perawatan

Gigi          : Pasien pernah cabut gigi di puskesmas

Jar.lunak rongga mulut dan sekitarnya : Pasien tidak pernah memeriksakan.

  1. Riwayat Kesehatan :

- Kelainan darah              : Pasien mengaku tidak ada kelainan

- Kelainan endokrin         : Pasien mengaku tidak ada kelainan

- Kelainan Jantung           : Pasien mengaku tidak ada kelainan

- Gangguan nutrisi           : Pasien mengaku tidak ada kelainan

- Kelainan kulit/kelamin   : Pasien mengaku tidak ada kelainan

- Gangguan pencernaan   : Pasien mengaku tidak ada kelainan

- Kelainan Imunologi       : Pasien mengaku tidak ada kelainan

- Gangguan respiratori     : Pasien mengaku tidak ada kelainan

- Gangguan TMJ              : Pasien mengaku tidak ada kelainan

- Tekanan darah               : Pasien mengaku tidak ada kelainan

- Diabetes Melitus            : Pasien mengaku tidak ada kelainan

- Lain-lain                         : -

  1. Obat-obatan yang telah/sedang dijalani : saat ini pasien tidak melaksanakan pengobatan lain.
  2. Keadaan sosial/kebiasaan : cukup,
  3. Riwayat Keluarga :

- Kelainan darah              : Pasien mengaku tidak ada kelainan

- Kelainan endokrin         : Pasien mengaku tidak ada kelainan

- Diabetes melitus            : Pasien mengaku tidak ada kelainan

- Kelainan jantung            : Pasien mengaku tidak ada kelainan

- Kelainan syaraf              : Pasien mengaku tidak ada kelainan

- Alergi                             : Pasien mengaku tidak ada kelainan

- lain-lain                          : -

 

2.3  PEMERIKSAAN FISIK

  1. Ekstra Oral

-       Muka          : simetris

-       Pipi kiri       : tampak normal

-       Pipi kanan  : tampak normal

-       Bibir atas    : tampak normal

-       Bibir bawah : tampak normal

-       Sudut mulut : tampak normal

-       Kelenjar submandibularis kiri          : tidak teraba

-       Kelenjar submandibularis kanan      : tidak teraba

-       Kelenjar submental                          : tidak teraba

-       Kelenjar leher                                   : tidak teraba

-       Kelenjar sublingualis                        : tidak teraba

-       Kelenjar parotis kanan                     : tidak teraba

-       Kelenjar parotis kiri                         : tidak teraba

 

 

  1. Intra Oral

-       Mukosa labial atas           : tampak normal

-       Mukosa labial bawah       : tampak normal

-       Mukosa pipi kiri              : tampak normal

-       Mukosa pipi kanan          : tampak normal

-       Bukal fold atas                : tampak normal

-       Bukal fold bawah            : tampak normal

-       Labial fold atas               : tampak normal

-       Labial fold bawah           : tampak normal

-       Gingival rahang atas        : tampak hiperemis

-       Gingival rahang bawah   : tampak hiperemis

-       Lidah                               : tampak bercak putih

-       Dasar mulut                     : tampak normal

-       Palatum                           : tampak normal

-       Tonsil                               : tampak normal

-       Pharynx                           : tampak normal

 

2.4  DIAGNOSIS KERJA

Gangren Pulpa    8

Karies   7

 

2.5  RENCANA PERAWATAN

Pro Ekstraksi     8

 

1. Pengobatan

- Tab. Amoxicilin 500mg 3 x1

- Tab. Asam mefenamat 500mg 3 x 1

 

2. Pemeriksaan Penunjang :

Lab.Rontgenologi mulut/ Radiologi   : -

Lab.Patologi anatomi                          : -

  • Sitologi                                    : -
  • Biopsi                                      : -

Lab.Mikrobiologi                                : -

  • Bakteriologi                            : -
  • Jamur                                       : -

Lab.Patologi Klinik                             : -

 

3. Rujukan :

Poli Penyakit Dalam                           : -

Poli THT                                             : -

Poli Kulit & Kelamin                          : -

Poli Syaraf                                          : -

VI. DIAGNOSE AKHIR :

Gangren Pulpa    8

Karies   7

 

BAB III

TELAAH KASUS

 

3.1 DEFINISI

Gangren Pulpa Adalah keadaan gigi dimana jarigan pulpa sudah mati sebagai sistem pertahanan pulpa sudah tidak dapat menahan rangsangan sehingga jumlah sel pulpa yang rusak menjadi semakin banyak dan menempati sebagian besar ruang pulpa. Sel-sel pulpa yang rusak tersebut akan mati dan menjadi antigen sel-sel sebagian besar pulpa yang masih hidup. Proses terjadinya gangrene pulpa diawali oleh proses karies. Karies dentis adalah suatu penghancuran struktur gigi (email, dentin dan cementum) oleh aktivitas sel jasad renik (mikro-organisme) dalam dental plak. Jadi proses karies hanya dapat terbentuk apabila terdapat 4 faktor yang saling tumpang tindih. Adapun faktor-faktor tersebut adalah bakteri, karbohidrat makanan, kerentanan permukaan gigi serta waktu. Perjalanan gangrene pulpa dimulai dengan adanya karies yang mengenai email (karies superfisialis), dimana terdapat lubang dangkal, tidak lebih dari 1mm. selanjutnya proses berlanjut menjadi karies pada dentin (karies media) yang disertai dengan rasa nyeri yang spontan pada saat pulpa terangsang oleh suhu dingin atau makanan yang manis dan segera hilang jika rangsangan dihilangkan. Karies dentin kemudian berlanjut menjadi karies pada pulpa yang didiagnosa sebagai pulpitis. Pada pulpitis terdapat lubang lebih dari 1mm. pada pulpitis terjadi peradangan kamar pulpa yang berisi saraf, pembuluh darah, dan pempuluh limfe, sehingga timbul rasa nyeri yang hebat, jika proses karies berlanjut dan mencapai bagian yang lebih dalam (karies profunda). Maka akan menyebabkan terjadinya gangrene pulpa yang ditandai dengan perubahan warna gigi terlihat berwarna kecoklatan atau keabu-abuan, dan pada lubang perforasi tersebut tercium bau busuk akibat dari proses pembusukan dari toksin kuman.

 

3.2 ETIOLOGI

Etiologi dari gangren pulpa pada dasarnya dimulai oleh terjadinya karies, sedangkan karies gigi disebabkan oleh 4 faktor/komponen yang saling berinteraksi yaitu:

a)      Komponen dari gigi dan air ludah (saliva) yang meliputi : Komposisi gigi, morphologi gigi, posisi gigi, Ph Saliva, Kuantitas saliva, kekentalan saliva

b)      Komponen mikroorganisme yang ada dalam mulut yang mampu menghasilkan asam melalui peragian yaitu ; Streptococcus, Laktobasillus, staphilococus

c)      Komponen makanan, yang sangat berperan adalah makanan yang mengandung karbohidrat misalnya sukrosa dan glukosa yang dapat diragikan oleh bakteri tertentu dan membentuk asam

d)     Komponen waktu

 

3.3 PATOGENESIS

 

Bagan Patifisiologi terjadinya gangrene pulpa

Bakteri + karbihidrat makanan + Kerentanan permukaan gigi + waktu
(Saling tumpang tindih)

Karies superfisialis

Karies Media

Karies Profunda

Radang pada pulpa (Pulpitis)

Pembusukan jaringan pulpa
(ditemukan gas-gas indol, skatol, putresin)

Bau Mulut

Keluar Gas H2S, NH3

Gigi non vital
(Gangren pulpa)

 

3.5 MANIFESTASI KLINIS

 

Gejala yang didapat dari pulpa yang gangrene bisa terjadi tanpa keluhan sakit, dalam keadaan demikian terjadi perubahan warna gigi, dimana gigi terlihat berwarna kecoklatan atau keabu-abuan Pada gangrene pulpa dapat disebut juga gigi non vital dimana pada gigi tersebut sudah tidak memberikan reaksi pada cavity test (tes dengan panas atau dingin) dan pada lubang perforasi tercium bau busuk, gigi tersebut baru akan memberikan rasa sakit apabila penderita minum atau makan benda yang panas yang menyebabkan pemuaian gas dalam rongga pulpa tersebut yang menekan ujung saraf akar gigi sebelahnya yang masih vital.

 

3.6 DIAGNOSIS

Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis dan pemeriksaan objektif (extra oral dan intra oral). Berdasarkan pemeriksaan klinis, secara objektif didapatkan :

  • Karies profunda (+)
  • Pemeriksaan sonde (-)
  • Dengan menggunakan sonde mulut, lalu ditusukkan beberapa kali kedalam karies, hasilnya (-). Pasien tidak merasakan sakit
  • Pemeriksaan perkusi (-) Dengan menggunakan ujung sonde mulut yang bulat, diketuk-ketuk kedalam gigi yang sakit, hasilnya (-). pasien tidak merasakan sakit

Pemeriksaan penciuman
Dengan menggunakan pinset, ambil kapas lalu sentuhkan pada gigi yang sakit kemudian cium kapasnya, hasilnya (+) akan tercium bau busuk dari mulut pasien

Pemeriksaan foto rontgen
Terlihat suatu karies yang besar dan dalam, dan terlihat juga rongga pulpa yang telah terbuka dan jaringan periodontium memperlihatkan penebalan.

 

3.7 KOMPLIKASI
Periodontitis merupakan komplikasi dari karies profunda non vitalis atau gangrene pulpa, dimana pada pemeriksaan klinis ditemukan gigi non vital, sondase (-), dan perkusi (+).

Gangren pulpa Periodontitis
Pemeriksaan sonde (-)
Pemeriksaan perkusi (-)

Reaksi panas/dingin (-)

Pemeriksaan sonde (-)

Pemeriksaan perkusi (+)

Pemeriksaan panas/dingin (-)

 

Untuk menentukan apakah pulpa masih dapat diselamatkan, bisa dilakukan beberapa pengujian :

Diberi Rangsang Dingin

Rangsang dihentikan, nyeri hilang artinya pulpa sehat. Pulpa dipertahankan dengan mencabut bagian gigi yang membusuk dan menambalnya. Jika nyeri tetap, meskipun rangsang nyeri sudah dihilangkan atau jika nyeri timbul secara spontan, maka pulpa tidak dapaty dipertahankan.
Penguji Pulpa Elektrik

Alat ini digunakan untuk menunjukkan apakah pulpa masih hidup, bukan untuk menentukan apakah pulpa masih sehat, jika penderita merasakan aliran listrik pada giginya, berarti pulpa masih hidup
Mengetuk Gigi Dengan Sebuah Alat

Jika dengan pengetukan gigi timbul nyeri, berarti peradangan telah menyebar ke jaringan tulang dan sekitarnya


Rontgen Gigi

Dilakukan untuk mengetahui adanya pembusukan gigi dan menunjukkan apakah penyebaran peradangan telah menyebabkan pengeroposan tulang disekitar akar gigi.
3.8 PENATALAKSANAAN

Tindakan yang dilakukan pada gangrene pulpa yaitu ekstraksi pada gigi yang sakit, karena pada kondisi ini gigi akan menjadi non-vital (gigi mati) sehingga akan menjadi sumber infeksi (fokal infeksi).

 

BAB III

KESIMPULAN

            Gangren pulpa adalah Kematian jaringan pulpa sebagian atau seluruhnya sebagai kelanjutan proses karies atau trauma. Penyebab dari kematian jaringan pulpa dengan atau tanpa kehancuran jaringan pulpa. Gambaran Klinis diantaranya tidak ada simtom sakit dan tanda klinis yang sering ditemui adalah jaringan pulpa mati, lisis dan berbau busuk. Periodontitis merupakan komplikasi dari karies profunda non vitalis atau gangrene pulpa, dimana pada pemeriksaan klinis ditemukan gigi non vital, sondase (-), dan perkusi (+).

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Gangren pulpa akut.www.medicastore.com. Diakses tanggal 20 Desember 2010.
  2. Karies gigi.http//medicascore.com. [Diakses 21 Desember 2010]
  3. Karies Gigi. http://id.wikipedia.org/wiki/karies gigi. [Diakses 21 Desember 2010]
  4. Tooth Eruption.http://www.adandental.com.au/tooth_eruption_dates.htm [diakses 21 Desember 2010]
  5. Dental Topics. http://www.surfcitykidsdds.com/dental_topics.html [diakses 22 agustus 2010]
  6. Periodontitis. http://www.indonesian.com [diakses 19 Desember 2010]

 



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.